alexametrics
24.7 C
Gorontalo
Saturday, November 27, 2021

Ganjar Tidak Diundang, Rapat Soliditas Malah Ciptakan Perpecahan

GORONTALOPOST.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik Zainul Abidin Sukrin menilai, rapat penguatan soliditas PDIP Menuju Pemilu 2024 di Jawa Tengah tanpa melibatkan Ganjar Pranowo, cenderung merugikan partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Rapat penguatan soliditas di Semarang pada Sabtu (22/5) tersebut dipimpin oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani. Menurut Zainul, tidak diundangnya Ganjar memunculkan opini bahwa Puan terkesan arogan.

Kesan tersebut tentu saja merugikan bagi partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Rapat yang dipimpin oleh Puan menginginkan kader solid, tetapi cenderung membuat kader sembelit. Kesan yang muncul, ada arogansi dan itu menghimpit kader partai. Akhirnya bukan kesatuan sikap yang tercipta. Namun sentimen dan perpecahan,” ujar Zainul kepada JPNN.com, Senin (24/5).

Direktur Eksekutif Politika Institute ini menilai, sikap Puan dapat meruntuhkan citra PDIP sebagai partai terbuka dan partai harapan bagi kader partai. Padahal, kaderisasi PDIP terbukti sudah bagus. Karier politik Jokowi juga berangkat dari pimpinan tingkat lokal.

“Karier politik Jokowi membekas dalam sejarah politik nasional. Dari kader dan politikus lokal, menjadi tokoh dan elite politik nasional. Dari wali kota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan puncaknya menjadi presiden sejak 2014 hingga kini,” ucapnya.

Zainul lebih lanjut mengatakan, keterbukaan PDIP seharusnya membudaya, di tengah fenomena menguatnya oligarki di partai politik. “Karena itu, dalam hal ini wajar muncul kesan sikap Puan menunjukkan arogansi dan sekali lagi, saya kira itu merugikan PDIP. Karena menciptakan kegentingan politik di basis PDI Perjuangan,” katanya.

Zainul menilai, PDIP harus menjaga ketentraman batin dari partisan politiknya. Karena Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah bukan sekadar kader. Namun diprediksi bakal menjadi simbol kekuatan politik PDIP di 2024.

“Jadi, modal sosial dan politik Ganjar Pranowo seharusnya diberdayakan oleh partai. Modal itu seharusnya disempurnakan bentuknya sebagai satu kekuatan politik yang tidak tertandingi di Pemilu 2024,” pungkas Zainul. (jpnn)

GORONTALOPOST.CO.ID, JAKARTA – Pengamat politik Zainul Abidin Sukrin menilai, rapat penguatan soliditas PDIP Menuju Pemilu 2024 di Jawa Tengah tanpa melibatkan Ganjar Pranowo, cenderung merugikan partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Rapat penguatan soliditas di Semarang pada Sabtu (22/5) tersebut dipimpin oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani. Menurut Zainul, tidak diundangnya Ganjar memunculkan opini bahwa Puan terkesan arogan.

Kesan tersebut tentu saja merugikan bagi partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Rapat yang dipimpin oleh Puan menginginkan kader solid, tetapi cenderung membuat kader sembelit. Kesan yang muncul, ada arogansi dan itu menghimpit kader partai. Akhirnya bukan kesatuan sikap yang tercipta. Namun sentimen dan perpecahan,” ujar Zainul kepada JPNN.com, Senin (24/5).

Direktur Eksekutif Politika Institute ini menilai, sikap Puan dapat meruntuhkan citra PDIP sebagai partai terbuka dan partai harapan bagi kader partai. Padahal, kaderisasi PDIP terbukti sudah bagus. Karier politik Jokowi juga berangkat dari pimpinan tingkat lokal.

“Karier politik Jokowi membekas dalam sejarah politik nasional. Dari kader dan politikus lokal, menjadi tokoh dan elite politik nasional. Dari wali kota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan puncaknya menjadi presiden sejak 2014 hingga kini,” ucapnya.

Zainul lebih lanjut mengatakan, keterbukaan PDIP seharusnya membudaya, di tengah fenomena menguatnya oligarki di partai politik. “Karena itu, dalam hal ini wajar muncul kesan sikap Puan menunjukkan arogansi dan sekali lagi, saya kira itu merugikan PDIP. Karena menciptakan kegentingan politik di basis PDI Perjuangan,” katanya.

Zainul menilai, PDIP harus menjaga ketentraman batin dari partisan politiknya. Karena Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah bukan sekadar kader. Namun diprediksi bakal menjadi simbol kekuatan politik PDIP di 2024.

“Jadi, modal sosial dan politik Ganjar Pranowo seharusnya diberdayakan oleh partai. Modal itu seharusnya disempurnakan bentuknya sebagai satu kekuatan politik yang tidak tertandingi di Pemilu 2024,” pungkas Zainul. (jpnn)

Must read

More articles

Latest article