alexametrics
24.4 C
Gorontalo
Sunday, May 22, 2022

Dilarang Main di Piala Dunia dan Eropa, Rusia Melawan

GORONTALOPOST.ID- Otoritas sepak bola dunia dan Eropa kembali menghukum Rusia gara-gara invasinya ke Ukraina. Setelah kesempatan menjadi tuan rumah final Liga Champions dicabut, tim nasional (timnas) putra dan putri Negeri Beruang Merah juga dilarang bermain di playoff Piala Dunia dan putaran final Piala Eropa.

Klub elite mereka juga didepak dari ajang Eropa. FIFA dan UEFA memutuskan sanksi demi sanksi itu sesuai dengan arahan Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk melarang atlet Rusia dan Belarus turun di berbagai ajang.

FIFA dan UEFA melarang timnas putra Rusia bertanding dalam playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 pada 24 Maret mendatang. Begitu pula timnas putri Rusia yang harus membatalkan partisipasinya dalam Euro 2022 di Inggris pada 6–31 Juli mendatang.

Di level turnamen antarklub, Spartak Moskva juga tidak diperbolehkan turun dalam babak 16 besar Liga Europa 2021–2022. Gladiatory (julukan Spartak) seharusnya bertanding menghadapi klub Bundesliga RB Leipzig. Praktis, dengan dicoretnya Spartak, tiket ke perempat final langsung dikantongi RBL (singkatan RB Leipzig).

UEFA juga menyudahi kontrak kerja sama bernilai EUR 40 juta (Rp 641,8 miliar) dengan salah satu perusahaan gas milik pemerintah Rusia, Gazprom. Sama seperti yang sudah dilakukan salah satu klub Bundesliga, Schalke 04.

’’Keputusan ini ditetapkan hari ini (kemarin, 1/3) oleh Biro Dewan FIFA dan Komite Eksekutif UEFA di masing-masing badan pembuat keputusan tertinggi dari kedua lembaga berkaitan dengan kondisi yang mendesak tersebut. Apa pun yang mewakili Rusia, klub atau timnas, dilarang turun di ajang apa pun dari kalender FIFA atau UEFA sampai waktu yang tak bisa ditentukan,’’ tulis FIFA dan UEFA dalam pernyataan bersama.

FIFA dan UEFA menilai Rusia sudah menyalahi nilai-nilai sportivitas dalam sepak bola. ’’Sepak bola sepenuhnya bersatu di sini dan dalam solidaritas penuh dengan semua korban yang terkena dampak di Ukraina. Kedua presiden (FIFA dan UEFA) berharap situasi di Ukraina membaik secara signifikan,’’ lanjut pernyataan dua konfederasi tersebut.

Upaya FIFA dan UEFA itu mendapat dukungan dari banyak negara anggota. Bahkan, politikus Skotlandia Henry McLeish yang dikenal punya afiliasi dengan Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) menyerukan kepada FIFA dan UEFA supaya memberikan jalan Ukraina lolos ke Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar akhir tahun ini.

The Blue and Yellow (julukan timnas Ukraina) berada di path A playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 zona UEFA bersama Wales, Austria, dan Skotlandia. Di semifinal, Ukraina meladeni Skotlandia di Glasgow pada 25 Maret mendatang.

Namun, McLeish meminta slot Ukraina itu bukan dari final path A. ”Hadiah” bagi Ukraina itu sama seperti yang didapatkan Die Bullen (julukan RBL). Klub milik salah satu perusahaan minuman berenergi itu tidak perlu bertanding untuk melangkah ke babak 16 besar Liga Europa.

Spartak ataupun Federasi Sepak Bola Rusia (RFU) tak terima dengan keputusan FIFA dan UEFA tersebut. Begitu pula klub Rusia lainnya. Salah satunya Zenit Saint Petersburg. Pelatihnya, Sergei Semak, mengecam sanksi tersebut.

Sebab, menurut dia, sepak bola tak bisa disangkutkan dengan politik. ’’Aku pun tak ingin mencampuradukkan politik dengan sepak bola,’’ kecamnya seperti dikutip dari laman Championat.

Pelatih timnas Rusia Valery Karpin pun balik menuding FIFA dan UEFA sebagai dua pihak penghancur mimpi para pemain muda Rusia untuk merasakan atmosfer Piala Dunia. ’’Tentu dalam hal ini kami berharap sepak bola diselesaikan di lapangan, bukan secara politis,’’ sindir Karpin di laman resmi RFU. ’’Aku berharap sanksi FIFA dan UEFA bisa segera dicabut dan sepak bola Rusia kembali ke kancah internasional,’’ sambung Karpin.

Karena itu, RFU berniat mengajukan banding atas keputusan FIFA dan UEFA serta membawa kasus tersebut ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). RFU menilai ada unsur diskriminasi di balik sanksi tersebut.

Sanksi itu juga dianggap bisa memecah belah komunitas olahraga dunia yang selama ini menganut prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan independen dari politik. ’’Kami pun berhak menentang keputusan FIFA dan UEFA tersebut sesuai dengan norma-norma hukum olahraga internasional,’’ kata RFU dalam pernyataannya. (jawapos)

GORONTALOPOST.ID- Otoritas sepak bola dunia dan Eropa kembali menghukum Rusia gara-gara invasinya ke Ukraina. Setelah kesempatan menjadi tuan rumah final Liga Champions dicabut, tim nasional (timnas) putra dan putri Negeri Beruang Merah juga dilarang bermain di playoff Piala Dunia dan putaran final Piala Eropa.

Klub elite mereka juga didepak dari ajang Eropa. FIFA dan UEFA memutuskan sanksi demi sanksi itu sesuai dengan arahan Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk melarang atlet Rusia dan Belarus turun di berbagai ajang.

FIFA dan UEFA melarang timnas putra Rusia bertanding dalam playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 pada 24 Maret mendatang. Begitu pula timnas putri Rusia yang harus membatalkan partisipasinya dalam Euro 2022 di Inggris pada 6–31 Juli mendatang.

Di level turnamen antarklub, Spartak Moskva juga tidak diperbolehkan turun dalam babak 16 besar Liga Europa 2021–2022. Gladiatory (julukan Spartak) seharusnya bertanding menghadapi klub Bundesliga RB Leipzig. Praktis, dengan dicoretnya Spartak, tiket ke perempat final langsung dikantongi RBL (singkatan RB Leipzig).

UEFA juga menyudahi kontrak kerja sama bernilai EUR 40 juta (Rp 641,8 miliar) dengan salah satu perusahaan gas milik pemerintah Rusia, Gazprom. Sama seperti yang sudah dilakukan salah satu klub Bundesliga, Schalke 04.

’’Keputusan ini ditetapkan hari ini (kemarin, 1/3) oleh Biro Dewan FIFA dan Komite Eksekutif UEFA di masing-masing badan pembuat keputusan tertinggi dari kedua lembaga berkaitan dengan kondisi yang mendesak tersebut. Apa pun yang mewakili Rusia, klub atau timnas, dilarang turun di ajang apa pun dari kalender FIFA atau UEFA sampai waktu yang tak bisa ditentukan,’’ tulis FIFA dan UEFA dalam pernyataan bersama.

FIFA dan UEFA menilai Rusia sudah menyalahi nilai-nilai sportivitas dalam sepak bola. ’’Sepak bola sepenuhnya bersatu di sini dan dalam solidaritas penuh dengan semua korban yang terkena dampak di Ukraina. Kedua presiden (FIFA dan UEFA) berharap situasi di Ukraina membaik secara signifikan,’’ lanjut pernyataan dua konfederasi tersebut.

Upaya FIFA dan UEFA itu mendapat dukungan dari banyak negara anggota. Bahkan, politikus Skotlandia Henry McLeish yang dikenal punya afiliasi dengan Federasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) menyerukan kepada FIFA dan UEFA supaya memberikan jalan Ukraina lolos ke Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar akhir tahun ini.

The Blue and Yellow (julukan timnas Ukraina) berada di path A playoff kualifikasi Piala Dunia 2022 zona UEFA bersama Wales, Austria, dan Skotlandia. Di semifinal, Ukraina meladeni Skotlandia di Glasgow pada 25 Maret mendatang.

Namun, McLeish meminta slot Ukraina itu bukan dari final path A. ”Hadiah” bagi Ukraina itu sama seperti yang didapatkan Die Bullen (julukan RBL). Klub milik salah satu perusahaan minuman berenergi itu tidak perlu bertanding untuk melangkah ke babak 16 besar Liga Europa.

Spartak ataupun Federasi Sepak Bola Rusia (RFU) tak terima dengan keputusan FIFA dan UEFA tersebut. Begitu pula klub Rusia lainnya. Salah satunya Zenit Saint Petersburg. Pelatihnya, Sergei Semak, mengecam sanksi tersebut.

Sebab, menurut dia, sepak bola tak bisa disangkutkan dengan politik. ’’Aku pun tak ingin mencampuradukkan politik dengan sepak bola,’’ kecamnya seperti dikutip dari laman Championat.

Pelatih timnas Rusia Valery Karpin pun balik menuding FIFA dan UEFA sebagai dua pihak penghancur mimpi para pemain muda Rusia untuk merasakan atmosfer Piala Dunia. ’’Tentu dalam hal ini kami berharap sepak bola diselesaikan di lapangan, bukan secara politis,’’ sindir Karpin di laman resmi RFU. ’’Aku berharap sanksi FIFA dan UEFA bisa segera dicabut dan sepak bola Rusia kembali ke kancah internasional,’’ sambung Karpin.

Karena itu, RFU berniat mengajukan banding atas keputusan FIFA dan UEFA serta membawa kasus tersebut ke Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS). RFU menilai ada unsur diskriminasi di balik sanksi tersebut.

Sanksi itu juga dianggap bisa memecah belah komunitas olahraga dunia yang selama ini menganut prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan independen dari politik. ’’Kami pun berhak menentang keputusan FIFA dan UEFA tersebut sesuai dengan norma-norma hukum olahraga internasional,’’ kata RFU dalam pernyataannya. (jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/