24.5 C
Gorontalo
Sunday, November 27, 2022

Singgung Statuta FIFA, Pengamat: Dalam Stadion Harus Water Cannon Dulu

GORONTALOPOST.ID–Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berjanji mengusut tuntas tragedi di Stadion Kanjuruhan. Kapolri menerjunkan tim khusus yang melibatkan berbagai unsur dari Mabes Polri. Pernyataan itu disampaikan Sigit saat meninjau kondisi Kanjuruhan kemarin (2/10).

Dia menegaskan, pihaknya langsung mengambil tindakan setelah mendapat laporan rusuh seusai laga Arema FC vs Persebaya. Kondisi di dalam stadion disterilkan untuk kepentingan investigasi.

”Hari ini (kemarin, Red) kami datang bersama tim dari berbagai satuan kerja untuk melakukan pendalaman,” ujarnya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kadivpropam Polri Irjen Syahardiantono tampak hadir. Termasuk sejumlah penyidik dari Bareskrim Polri, Inafis, Puslabfor, dan Pusdokkes.

Menurut dia, tahap awal yang sudah dilakukan adalah mengidentifikasi korban jiwa. Informasi awal, jumlah korban jiwa mencapai 129 orang. Jenazahnya tersebar di sejumlah rumah sakit.

”Data terakhir sudah diverifikasi bersama dinas kesehatan 125 orang. Di data awal, terdapat pencatatan ganda,” katanya.

Sigit menyatakan, seluruh korban sudah teridentifikasi. Berdasar verifikasi, 32 korban jiwa di antaranya masih di bawah umur.

”Evaluasi pengamanan dan investigasi terkait dengan peristiwa yang terjadi sedang dilakukan. Diharapkan, tidak ada lagi peristiwa serupa ke depannya,” tuturnya.

Disinggung soal adanya dugaan kesalahan prosedur penembakan gas air mata, dia memilih jawaban diplomatis. Sigit menuturkan, pihaknya masih perlu melakukan pendalaman. ”Nanti kami sampaikan perkembangannya,” ujarnya.

Nico Afinta menjelaskan, pengamanan yang diberikan sudah sesuai dengan prosedur. Menurut dia, jajaran polres dan panpel sudah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk membahasnya.

”Salah satu poin yang disepakati adalah hanya suporter Arema yang boleh datang ke stadion,” ungkapnya.

Nico mengklaim pengamanan selama pertandingan berjalan lancar. Masalah baru muncul setelah peliut akhir ditiup wasit. Banyak penonton yang merangsek turun ke lapangan. ”Mereka kecewa timnya kalah serta mengejar pemain dan ofisial,” jelasnya.

Kondisi itu direspons petugas dengan penghalauan. Mereka meminta penonton agar kembali, tetapi diabaikan. Bahkan, tidak sedikit penonton yang disebut menganiaya petugas.

Lantaran tindakan penonton membahayakan, petugas akhirnya menembakkan gas air mata. Bukan hanya ke lapangan, tetapi juga ke tribun.

Menurut Nico, kondisi itu membuat penumpukan massa. Dampaknya, penonton saling berdesakan dan kekurangan oksigen. Beberapa penonton sampai tidak sadarkan diri.

Terkait dengan tembakan gas air mata yang menyalahi peraturan FIFA, Nico tidak menjawab gamblang. Dia hanya menyebut perlawanan penonton kepada petugas sebagai pemicu awal.

”Sangat kami sesalkan kenapa suporter begitu beringas sampai gas air mata keluar. Kita semua tidak menginginkan kejadian ini,” ujarnya.

Nico menyampaikan, polres sejatinya sudah merekomendasikan pertandingan diadakan pada sore hari. Namun, anjuran itu tidak diindahkan. Operator liga tetap memilih jadwal awal dengan menyelenggarakan pertandingan pada malam hari.

Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menjelaskan, dalam statuta FIFA memang terdapat larangan penggunaan gas air mata. Pertanyaannya, kenapa larangan itu tidak diserap Polri. Padahal, seharusnya PSSI yang mendorong peraturan FIFA itu diserap dan dijalankan kepolisian. ”Ini kenapa?” tanyanya.

Dia juga membenarkan bahwa gas air mata merupakan langkah terakhir untuk membubarkan massa. Harus didahului dengan K9 dan mobil water cannon sebagai pengurai massa. ”Kalau dalam stadion, harus water cannon dulu,” tegasnya.

Minusnya K9 dan water cannon menunjukkan perlunya evaluasi terhadap rencana pengamanan laga Arema vs Persebaya tersebut.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID–Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berjanji mengusut tuntas tragedi di Stadion Kanjuruhan. Kapolri menerjunkan tim khusus yang melibatkan berbagai unsur dari Mabes Polri. Pernyataan itu disampaikan Sigit saat meninjau kondisi Kanjuruhan kemarin (2/10).

Dia menegaskan, pihaknya langsung mengambil tindakan setelah mendapat laporan rusuh seusai laga Arema FC vs Persebaya. Kondisi di dalam stadion disterilkan untuk kepentingan investigasi.

”Hari ini (kemarin, Red) kami datang bersama tim dari berbagai satuan kerja untuk melakukan pendalaman,” ujarnya.

Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta dan Kadivpropam Polri Irjen Syahardiantono tampak hadir. Termasuk sejumlah penyidik dari Bareskrim Polri, Inafis, Puslabfor, dan Pusdokkes.

Menurut dia, tahap awal yang sudah dilakukan adalah mengidentifikasi korban jiwa. Informasi awal, jumlah korban jiwa mencapai 129 orang. Jenazahnya tersebar di sejumlah rumah sakit.

”Data terakhir sudah diverifikasi bersama dinas kesehatan 125 orang. Di data awal, terdapat pencatatan ganda,” katanya.

Sigit menyatakan, seluruh korban sudah teridentifikasi. Berdasar verifikasi, 32 korban jiwa di antaranya masih di bawah umur.

”Evaluasi pengamanan dan investigasi terkait dengan peristiwa yang terjadi sedang dilakukan. Diharapkan, tidak ada lagi peristiwa serupa ke depannya,” tuturnya.

Disinggung soal adanya dugaan kesalahan prosedur penembakan gas air mata, dia memilih jawaban diplomatis. Sigit menuturkan, pihaknya masih perlu melakukan pendalaman. ”Nanti kami sampaikan perkembangannya,” ujarnya.

Nico Afinta menjelaskan, pengamanan yang diberikan sudah sesuai dengan prosedur. Menurut dia, jajaran polres dan panpel sudah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk membahasnya.

”Salah satu poin yang disepakati adalah hanya suporter Arema yang boleh datang ke stadion,” ungkapnya.

Nico mengklaim pengamanan selama pertandingan berjalan lancar. Masalah baru muncul setelah peliut akhir ditiup wasit. Banyak penonton yang merangsek turun ke lapangan. ”Mereka kecewa timnya kalah serta mengejar pemain dan ofisial,” jelasnya.

Kondisi itu direspons petugas dengan penghalauan. Mereka meminta penonton agar kembali, tetapi diabaikan. Bahkan, tidak sedikit penonton yang disebut menganiaya petugas.

Lantaran tindakan penonton membahayakan, petugas akhirnya menembakkan gas air mata. Bukan hanya ke lapangan, tetapi juga ke tribun.

Menurut Nico, kondisi itu membuat penumpukan massa. Dampaknya, penonton saling berdesakan dan kekurangan oksigen. Beberapa penonton sampai tidak sadarkan diri.

Terkait dengan tembakan gas air mata yang menyalahi peraturan FIFA, Nico tidak menjawab gamblang. Dia hanya menyebut perlawanan penonton kepada petugas sebagai pemicu awal.

”Sangat kami sesalkan kenapa suporter begitu beringas sampai gas air mata keluar. Kita semua tidak menginginkan kejadian ini,” ujarnya.

Nico menyampaikan, polres sejatinya sudah merekomendasikan pertandingan diadakan pada sore hari. Namun, anjuran itu tidak diindahkan. Operator liga tetap memilih jadwal awal dengan menyelenggarakan pertandingan pada malam hari.

Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menjelaskan, dalam statuta FIFA memang terdapat larangan penggunaan gas air mata. Pertanyaannya, kenapa larangan itu tidak diserap Polri. Padahal, seharusnya PSSI yang mendorong peraturan FIFA itu diserap dan dijalankan kepolisian. ”Ini kenapa?” tanyanya.

Dia juga membenarkan bahwa gas air mata merupakan langkah terakhir untuk membubarkan massa. Harus didahului dengan K9 dan mobil water cannon sebagai pengurai massa. ”Kalau dalam stadion, harus water cannon dulu,” tegasnya.

Minusnya K9 dan water cannon menunjukkan perlunya evaluasi terhadap rencana pengamanan laga Arema vs Persebaya tersebut.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/