alexametrics
24.1 C
Gorontalo
Sunday, June 26, 2022

Dikalahkan Ganda Nomor Satu Dunia di Final, Fadia: Level Dunia Ternyata Seperti Itu, Ini Masih Awal

GORONTALOPOST.ID—Indonesia sebetulnya punya kans untuk menambah gelar lewat Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Sayangnya, impian Apriyani/Fadia untuk meraih gelar juara di turnamen Super Series pertamanya tak terealisasi. Mereka harus takluk oleh pasangan Tiongkok Chen Qingchen/Jia Yifan dengan dua game langsung (18-21, 12-21).

Apriyani mengakui keunggulan lawannya yang menduduki ranking satu dunia itu. Menurut dia, pasangan juara dunia 2021 tersebut tampil konsisten dengan menyerang sejak awal laga.

”Syukur, hari ini (kemarin) dapat hasil yang terbaik. Sudah mengeluarkan apa yang ada di diri kami. Kami akan terus push apa pun yang masih menjadi tanggung jawab kami,’’ ujar Apriyani pasca pertandingan.

Melawan Chen/Jia, dia dan Fadia mendapatkan banyak pelajaran. Khususnya, bagi Fadia yang menjalani final pertamanya di Super Series dan melawan top dunia. Dia melihat langsung bagaimana pola permainan lawan dan ketenangan di lapangan.

’’Ternyata, level dunia itu seperti itu. Mereka sudah mengerti satu sama lain dengan pola permainannya,’’ beber Fadia.

Karena itu, meski puas bisa tembus final pertama, dia tak ingin terlena. Fadia sadar bahwa kemampuannya masih jauh tertinggal.

”Aku harus tingkatkan lagi. Latihannya habis ini harus lebih ekstra. Nggak mau puas sampai di sini. Ini masih awal. Semoga ke depannya bisa kasih yang terbaik terus,’’ paparnya.

Apriyani menambahkan, kekalahan itu membuat dirinya juga harus kerja keras karena mengetahui masih banyaknya pekerjaan rumah (PR). ”Harus tingkatkan pola permainan kami lagi. Apalagi masih di bawah. Harus sangat, sangat, sangat bekerja keras,’’ tegas Apriyani.

Selain itu, Apriyani juga belajar untuk menerapkan aura positif dan membuat partner nyaman ketika bertanding. ’’Itu yang banyak aku pelajari (dari Greysia Polii). Karena itu yang membuat aku keluar dari tekanan dan itu yang membuat tidak takut-takut (bermain),’’ katanya.

Apriyani menyebutkan, pendekatan dan komunikasi dengan Fadia berbeda dengan Greysia. Ketika dengan Fadia, Apriyani yang lebih senior harus banyak mengarahkan dan bicara yang lembut.

”Aku sama Fadia juga beda (karakter). Aku lebih lihat karakter Fadia yang memang beda. Harus tahu juga,’’ ujarnya.

Setelah ditinggal Greysia, Apriyani mengakui sempat ragu untuk menjadi leader di lapangan. Namun, ternyata dari dua ajang yang dijalaninya bersama Fadia, kekhawatiran itu tak muncul.

”Dengan kepercayaan diri dan keyakinan, dan mengingat-ingat Kak Greysia. Apa yang baik diambil,’’ ujarnya.

Pelatih ganda putri Eng Hian menyatakan, keikutsertaan di ajang itu memang tidak menargetkan posisi. Sebab, sebagai pasangan baru, Apriyani/Fadia dikatakannya masih butuh penyatuan.

Karena itu, juru taktik yang akrab disapa Koh Didi tersebut membutuhkan sedikitnya enam hingga delapan turnamen untuk melihat seberapa jauh pasangan itu bisa berkembang.

Dalam enam turnamen tersebut, Apriyani/Fadia diharapkan bisa bertemu dengan pasangan-pasangan elite. Sebetulnya, di Indonesia Masters ini lawan yang dihadapi Apriyani/Fadia begitu teruji dengan menghadapi ranking satu dunia di final.

Sebelumnya, mereka juga menghadapi ranking kedua dunia dari Korea Selatan Lee So-hee/Shin Sheung-chan pada perempat final serta ranking ke-10 asal Malaysia Pearly Tan/Thinaah Muralitharam pada semifinal.

’’Sejauh ini memang sudah on the track. Tapi, komunikasi harus terus dilakukan untuk menyatukan chemistry,’’ paparnya.(Jawapos)

GORONTALOPOST.ID—Indonesia sebetulnya punya kans untuk menambah gelar lewat Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Sayangnya, impian Apriyani/Fadia untuk meraih gelar juara di turnamen Super Series pertamanya tak terealisasi. Mereka harus takluk oleh pasangan Tiongkok Chen Qingchen/Jia Yifan dengan dua game langsung (18-21, 12-21).

Apriyani mengakui keunggulan lawannya yang menduduki ranking satu dunia itu. Menurut dia, pasangan juara dunia 2021 tersebut tampil konsisten dengan menyerang sejak awal laga.

”Syukur, hari ini (kemarin) dapat hasil yang terbaik. Sudah mengeluarkan apa yang ada di diri kami. Kami akan terus push apa pun yang masih menjadi tanggung jawab kami,’’ ujar Apriyani pasca pertandingan.

Melawan Chen/Jia, dia dan Fadia mendapatkan banyak pelajaran. Khususnya, bagi Fadia yang menjalani final pertamanya di Super Series dan melawan top dunia. Dia melihat langsung bagaimana pola permainan lawan dan ketenangan di lapangan.

’’Ternyata, level dunia itu seperti itu. Mereka sudah mengerti satu sama lain dengan pola permainannya,’’ beber Fadia.

Karena itu, meski puas bisa tembus final pertama, dia tak ingin terlena. Fadia sadar bahwa kemampuannya masih jauh tertinggal.

”Aku harus tingkatkan lagi. Latihannya habis ini harus lebih ekstra. Nggak mau puas sampai di sini. Ini masih awal. Semoga ke depannya bisa kasih yang terbaik terus,’’ paparnya.

Apriyani menambahkan, kekalahan itu membuat dirinya juga harus kerja keras karena mengetahui masih banyaknya pekerjaan rumah (PR). ”Harus tingkatkan pola permainan kami lagi. Apalagi masih di bawah. Harus sangat, sangat, sangat bekerja keras,’’ tegas Apriyani.

Selain itu, Apriyani juga belajar untuk menerapkan aura positif dan membuat partner nyaman ketika bertanding. ’’Itu yang banyak aku pelajari (dari Greysia Polii). Karena itu yang membuat aku keluar dari tekanan dan itu yang membuat tidak takut-takut (bermain),’’ katanya.

Apriyani menyebutkan, pendekatan dan komunikasi dengan Fadia berbeda dengan Greysia. Ketika dengan Fadia, Apriyani yang lebih senior harus banyak mengarahkan dan bicara yang lembut.

”Aku sama Fadia juga beda (karakter). Aku lebih lihat karakter Fadia yang memang beda. Harus tahu juga,’’ ujarnya.

Setelah ditinggal Greysia, Apriyani mengakui sempat ragu untuk menjadi leader di lapangan. Namun, ternyata dari dua ajang yang dijalaninya bersama Fadia, kekhawatiran itu tak muncul.

”Dengan kepercayaan diri dan keyakinan, dan mengingat-ingat Kak Greysia. Apa yang baik diambil,’’ ujarnya.

Pelatih ganda putri Eng Hian menyatakan, keikutsertaan di ajang itu memang tidak menargetkan posisi. Sebab, sebagai pasangan baru, Apriyani/Fadia dikatakannya masih butuh penyatuan.

Karena itu, juru taktik yang akrab disapa Koh Didi tersebut membutuhkan sedikitnya enam hingga delapan turnamen untuk melihat seberapa jauh pasangan itu bisa berkembang.

Dalam enam turnamen tersebut, Apriyani/Fadia diharapkan bisa bertemu dengan pasangan-pasangan elite. Sebetulnya, di Indonesia Masters ini lawan yang dihadapi Apriyani/Fadia begitu teruji dengan menghadapi ranking satu dunia di final.

Sebelumnya, mereka juga menghadapi ranking kedua dunia dari Korea Selatan Lee So-hee/Shin Sheung-chan pada perempat final serta ranking ke-10 asal Malaysia Pearly Tan/Thinaah Muralitharam pada semifinal.

’’Sejauh ini memang sudah on the track. Tapi, komunikasi harus terus dilakukan untuk menyatukan chemistry,’’ paparnya.(Jawapos)

MOST READ

Artikel Terbaru

Artikel Lainnya

/