
GORONTALOPOST - Puasa, sebuah praktik yang umum ditemukan di berbagai budaya dan agama di seluruh dunia, melibatkan menahan diri dari makanan dan minuman selama jangka waktu tertentu.
Fenomena ini menyebabkan berbagai perubahan fisiologis dalam tubuh, salah satunya adalah kenaikan suhu tubuh yang bisa dirasakan secara subjektif.
Mengapa tubuh terasa hangat saat berpuasa telah menjadi pertanyaan yang menarik banyak orang.
Namun, jawabannya tidak hanya bersifat spiritual atau kebiasaan, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang menarik.
Menurut laporan dari Dry Fasting Club pada Jumat (15/3), selama berpuasa, metabolisme tubuh meningkat secara signifikan, dan darah menjadi lebih kental sehingga lebih mampu menahan panas. Hal ini menyebabkan suhu tubuh meningkat.
Selain itu, selama puasa, tubuh memecah sel-sel lemak dengan lebih cepat untuk mendapatkan air yang tersimpan di dalam tubuh. Proses pemecahan sel ini juga dapat menyebabkan sensasi tubuh terasa lebih hangat.
Ketika tubuh memecah lemak selama puasa, proses ini menghasilkan zat bernama keton yang memberikan energi tambahan kepada otak, meningkatkan kejelasan pikiran.
Selain itu, puasa juga dapat menyebabkan penurunan berat badan yang cepat karena pembakaran lemak yang intensif.
Jadi, saat berpuasa, tubuh mempercepat pembakaran lemak untuk mendapatkan air yang tersimpan di dalam tubuh, yang pada gilirannya dapat meningkatkan suhu tubuh dan menyebabkan sensasi tubuh terasa lebih hangat atau panas. (jpg)
