Wacana Koalisi Seru dan Liar, Netizen: Parpol Kebanyakan Membual

GORONTALOPOST.ID - Netizen Indonesia dikenal sadis mengomentari segala hal yang menjadi konsumsi publik. Seperti yang diapungkan Partai Amanat Nasional (PAN), yang menyebut, gabungan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) akan melebur dalam Koalisi Permanen Pilpres 2024.
Tapi, uniknya, Partai Golkar kurang sependapat. Wakil Ketua DPP Partai Golkar Nurul Arifin membantah itu. Apalagi yang diusung PAN adalah Capres Prabowo Subianto. ‘’Kami tetap mengusung Ketuam DPP PG Pak Airlangga Hartarto. Belum ada pembicaraan lain.
Kalau ada perkembangan di luar, itu di luar sepengetahuan Golkar,’’ tegas mantan aktris era 80-an itu.
Penegasan Nurul juga diperkuat Ketua Dewan Pembina DPP PG, Aburizal Bakrie. Mantan Ketum DPP PG itu bahkan meminta partai beringin tak perlu buru-buru menentukan sikap. Sebab deadline pendaftaran capres-cawapres masih hingga November 2023 atau enam bulan lagi.
Netizen pun mendukung Nurul dan Ical Bakrie. ‘’Ah, itu bualan parpol saja. Golkar tampak lebih realistis.
Dan ini menguntungkan partai kuning.’’ Demikian hasil intipan Manado Post Digital (MPD) di beberrapa linimasa dan laman sosial yang beredar sedari pagi hingga siang ini. ‘’Parpol yang tak memenuhi syarat presidential threshold biasanya selalu berkicau.
Agar digaet partai lain atau berusaha menggaet partai sesama yang tidak memenuhi syarat 25 persen pencalonan presiden,’’ tulis netizen di laman facebook.
Pengamat Politik Unsrat Dr Donald Moninjta S.Sos, MSi tak kurang nakalnya mengomentari fenomena terdebut.
‘’Kebanyakan membual sih partai-partai politik. Apalagi yang gencar mencari teman kaolisi. Maka dari itu mereka terus gerilya. Pada akhirnya wacana menjadi liar, tapi juga seru.
Ya seperti itu gambaran yang saya lihat khusus untuk parpol yang mencari teman koalisi ya,’’ urai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FISIP Unsrat itu.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Fikri Yasin menyebut PAN beserta tiga partai politik (parpol) pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tengah memantapkan 'Koalisi Permanen' menuju Pilpres 2024.
Fikri menyebut kemungkinan besar keempat parpol ini bakal mengusung Ketua Umum Prabowo Subianto sebagai presiden. Keempat partai itu yakni PAN, Gerindra, PKB dan Golkar.
"Iya betul [koalisi empat parpol bakal mendukung Prabowo]. Ya, itu istilah saja, dalam menyusun koalisi. Yang masuk dalam koalisi ini Gerindra, PAN, Golkar dan PKB," kata Fikri saat dihubungi, Selasa (13/6).
Keempat parpol itu menurutnya masih terus melakukan penjajakan dan saling berkomunikasi satu sama lain guna menentukan siapa sosok yang akan diusung sebagai capres dan cawapres pada kontestasi politik mendatang.
"Sampai saat ini beberapa kali putaran pertemuan ya memastikan koalisi ini terbentuk solid agar semua kader mantap dan yakin untuk memenangkan pertarungan," ujarnya.
Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi mengklaim koalisi parpol pendukung pemerintahan Jokowi hingga saat ini sangat solid meski berbeda parpol dengan segala aturannya.
Ia pun tak menampik bahwa 'Koalisi Permanen' ini tengah digodok dan anggotanya berisikan sejumlah parpol pendukung pemerintahan Jokowi era kini.
"Belum resmi membikin koalisi permanen untuk pilpres. Anggotanya ya partai koalisi pemerintah, minus NasDem," ujar Viva.
Istilah 'Koalisi Permanen' muncul dalam perbincangan yang terjadi antara sejumlah menteri yang mendampingi Presiden Jokowi ke Malaysia pada Kamis (8/6) lalu.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, tampak Menteri Pertahanan Prabowo Subianto duduk semeja dengan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Mendagri Tito Karnavian, Mensesneg Pratikno, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, Mendag Zulkifli Hasan, dan Menko Polhukam Mahfud MD.
Dalam kesempatan itu, terdengar Bahlil melontarkan guyonan di meja itu. Ia menyebut Prabowo sengaja dipanggil ke Kuala Lumpur untuk membahas 'Koalisi Permanen'.
Prabowo selanjutnya menanggapi guyon Bahlil dengan serius. Ia berkata masih memegang prinsip sebagai tentara.
Klaim PAN soal Koalisi Permanen sudah dimentahkan Golkar dan PKB. Golkar masih dengan keputusan Rapimnas, bahwa Ketum DPP Airlangga Hartarto yang diusung sebagai capres.
Begitu Ketua Dewan Pembina Aburisal Bakrie mengingatkan partainya untuk tidak terburu-buru menetapkan capres-cawapres. ‘’Masih lama. Masih enam bulan. Tak usah buru-buru. Di limit waktu pun kita masih bisa putuskan,’’ tegasnya.
Sementara Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar dinilai sebagai tokoh kunci pencapresan Prabowo. Sebagai penggagas Koalis Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bersam Gerindra, Cak Imin melihat perluang dirinya mendampingi Prabowo lebih kuat ketimbang yang lain.
Sedangkan Partai Gerindra, lewat Ketua DPP Haiburohman berulangkai menegaskan bahwa keputusan penunjukkan cawapres sepenuhnya di tangan Ketua Umum DPP Prabowo Subianto.
Partai Golkar pun lewat Wakil Ketua DPP Nurul Arifin menyangkal Katum Airlangga akan dipasangkan dengan Prabowo sebagai cawapres. ‘’Belum. Kami tidak pernah membahas itu. Itu klaim mereka saja.
Golkar bisa ke mana dan di mana saha dan kami masih pegang keputusan Rapimnas bahwa capres Gokar itu Airlangga Hararto,’’ tukasnya.
Bagaimana klaim PAN soal Kaolisi Permanen? PKB, Gerindra dan apalagi Golkar masih bungkam.
‘’Itu sih klaim PAN saja. Kita belum pada taraf itu. Jika pun terwujud, itu keputusan masing-masing Ketua Umum. Lha, sementara empat partai ini masih terikat di koalisi lama. Golkar, PAN dan PPP di KIB, Gerindra dan PKB di KKIR.
Bila membentuk poros baru dengan Koalisi Permanen, rasanya butuh rembug serius,’’ tutur salah satu petinggi partai Golkar Sulut yang enggan namanya ditulis. ‘’Jangan, ini ranah DPP. Kita di daerah hanya memonitor. Jika dimintai pendapat baru ngomong. Itu pun langsung ke DPP, bukan ke pers,’’ kelitnya.
PAN sendiri sejak mula memang getol mengajak sejumlah partai koalisi pemerintah membentuk poros baru di luar PDIP. Ketum DPP PAN bahkan rajin gerilya ke parpol-parpol untuk melakukan pembicaraan kemungkinan koalisi. Hasilnya, belum ada yang langsung konek.
Sementara itu di tengah santernya elit pemerintahan merapat ke Ganjar Pranowo, termasuk deretan partai non parlemen Senayan, Gubernur Jawa Tengah itu secara umum dalam deretan Lembaga survei hanya menempati peringkat kedua di bawah Prabowo.
Prabowo terus memimpin di berbagai Lembaga survei dengan elektabilitas tertinggi. Sedangkan Anies Baswedan yang diusung Koalisi Perubahan dan Persatuan (KPP), yang berisi Nasdem, Demokrat dan PKS sulit bernajak dari dasar klasemen.
KPP sendiri sedang dalam problem serius, setelah terjadi klaim antara Nasdem dan Demokrat. Nasdem melihat cawapres yang potensial untuk Anies condong ke Kofifah Indar Parawansa.
Sedangkan suara yang kelaur dari deretan kader Demokrat, Ketum Agus Harimurti Yudhoyono lebih layak. ‘’Memang kesepakatan KPP, penentuan cawapres di tangan Anies, tapi kami menyodor Ketum AHY sebagai cawapres,’’ terang Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat. Dr Hinca IP Panjaitan SH MH.
Artinya, baik Koalisi Permanen, KKIR, KIB (yang hampir pasti sudah bubar), maupun KPP masih semu. Belum ada yang bisa diegang. Rentang waktu 6 bulan hingga November sebelum pendaftaran capres-cawapres di KPU dianggap masih berpotensi mengubah peta persaingan.
Warga pun sedang was-was menunggu tanggal pertemuan antara Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketum Demokrat AHY. Pertemuan yang diisiatif PDIP itu diyakini akan mengubah peta koalisi.
Apalagi semua orang tahu perseteruan PDIP dan Demokrat sudah mencuat sejak Pilpres 2014, saat Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri kalah dari bekas menteri Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mendirikan Partai Demokrat.(*/hpn)
