Gorontalopost, TUMBILOTOHE adalah tradisi adat masyarakat Gorontalo yang merupakan warisan budaya Gorontalo.
Peranan tumbilotohe dalam pembangunan budaya dan kehidupan masyarakat adalah sebagai petanda datangnya bulan yang sakral.
Dan sebagai alat penerangan bagi masyarakat untuk melintasi jalan ke Masjid, tempat masyarakat muslim beribadah.
Baca Juga: Lakantas Jalan Trans Isimu Sopir PNS Kota Gorontalo Alami Micro Sleep
Tumbilotohe diadakan selama 3 hari pada malam hari dan akan berakhir pada malam Idul Fitri.
Berdasarkan arti morfologinya, tumbilotohe berasal dari dua kata: tumbilo (menyalakan) dan tohe (lampu).
Tumbilotohe berarti menyalakan lampu, namun lampu yang dimaksudkan pada adat tumbilotohe ini bukanlah lampu biasa.
Tetapi lampu yang terbuat dari damar, terbungkus dengan daun woka, dan biasanya disebut tohetutu atau lampu asli.
Baca Juga: Penjagub Gorontalo dan Forkompinda Pantau Pengamanan Idulfitri 1445 H
Sejarah tumbilotohe mulai dari abad ke-15 atau 16, dimulai dengan penggunaan lampu penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar.
Selanjutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar, yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar.
Seiring perkembangan zaman, bahan lampu buat penerangan di ganti dengan minyak tanah, dan sekarang ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik.
Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Enam Desa di Tolinggula Gorontalo Utara
Tumbilotohe diadakan secara turun temurun dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang miskin, kaya, pegawai, pendatang, Bupati, Gubernur, dan lain-lain.
Tradisi ini memiliki nilai yang sangat dalam, karena masyarakat Gorontalo mengekspresikan diri dalam mensunyikan jiwa dengan melaksanakan tradisi tumbilotohe.
Tumbilotohe juga memiliki nilai kesadaran dari keturunan yang sama, nilai kembali pada yang fitri puasa Ramadhan, dan nilai kepuasan spiritual.
Baca Juga: Dua Pelaku Pencurian 12 Dinamo di Pohuwato Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara
Dalam pelaksanannya, tumbilotohe menggunakan atribut adat yang semuanya dapat ditemui di alamat atau lingkungan sekitar.
Seperti alikusu (gapura adat), tohe tutu (lampu damar), padamala (lampu minyak kelapa), tonggolo’opo (lampion), dan lain-lain.
Tumbilotohe juga memiliki daya pikat yang cukup tinggi, sehingga setiap tahun menjadi salah satu alasan orang datang ke Gorontalo.
Zaman dahulu, perayaan Tumbilotohe dimaksudkan sebagai penerang jalan supaya masyarakat setempat yang ingin membayar zakat fitrah mudah berjalan ke masjid saat malam hari.
Menyalakan lampu pada perayaan Tumbilotohe juga merupakan simbol bahwa setiap manusia menyambut Idulfitri dengan jiwa dan hati yang bersih, serta terang benderang.(Dikutif dari berbagai sumber)
Editor : Azis Manansang