Gorontalopost, GORONTALO – Sebaran asap yang mencapai wilayah Gorontalo memicu perhatian pemerintah provinsi karena berpotensi mengganggu kualitas udara, aktivitas transportasi, dan kesehatan masyarakat.
Selain asap dari titik kebakaran lokal, sebagian sebaran yang terpantau dalam pembahasan pemerintah disebut berasal dari Papua Selatan dan terbawa angin hingga ke Gorontalo.
Baca Juga: Karawo, Warisan Gorontalo yang Kian Langka, Jadi Andalan UMKM Bone Bolango Menembus Pasar Ekspor
Menghadapi kondisi tersebut, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengumpulkan
sejumlah pemangku kepentingan dalam rapat koordinasi pada Selasa (13/10/2026).
Pertemuan yang turut dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Gorontalo Rusli W. Nusi itu membahas langkah antisipasi untuk menekan risiko yang mungkin timbul selama sebaran asap masih berlangsung.
Bagi pemerintah daerah, persoalan asap tidak hanya menyangkut kondisi lingkungan, tetapi juga kesiapan menghadapi kemungkinan gangguan pada aktivitas transportasi.
Perubahan kualitas udara perlu terus dipantau agar pihak terkait dapat mengambil langkah sesuai perkembangan situasi.
Risiko terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian dalam upaya mitigasi yang dibahas.
Gusnar meminta seluruh instansi terkait tidak lengah dan terus memperkuat komunikasi.
Ia menilai informasi yang diperbarui secara cepat dan berkesinambungan diperlukan agar setiap pihak memiliki gambaran situasi yang sama serta dapat merespons perubahan kondisi secara tepat.
Koordinasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan, tetapi berlanjut melalui pemantauan dan pertukaran informasi di antara para pemangku kepentingan.
Baca Juga: SIPD Bukan Sekadar Aplikasi, Kemendagri Sorot Akurasi Data dan Pengawasan Pembangunan Daerah
Dengan demikian, potensi dampak terhadap transportasi dan masyarakat dapat diantisipasi sedini mungkin.
Pemerintah juga dapat menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan perkembangan sebaran asap.
Pemerintah Provinsi Gorontalo berharap kesiapsiagaan lintas sektor mampu menjaga keselamatan masyarakat di tengah kondisi udara yang terganggu.
Selama situasi belum sepenuhnya terkendali, pemantauan kondisi dan komunikasi antarinstansi menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko serta memastikan penanganan berjalan terkoordinasi.(Ris).
Editor : Azis Manansang