Dikutip dari Antara pada Senin (11/12), Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan UMKM Kabupaten Gorontalo Utara, Grace Mangosa, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit ini disebabkan oleh tingginya permintaan dari konsumen.
Petani, terutama di kabupaten pesisir, baru mulai menanam cabai rawit sehingga stok di pasar masih terbatas.
Grace Mangosa menyatakan bahwa mereka terus memantau stok dan berusaha menjaga agar harga tidak terus naik.
Mereka turut bersyukur karena harga cabai rawit mulai mengalami penurunan.
Pada kondisi normal, ketika stok melimpah, harga cabai rawit biasanya sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Grace berharap agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi situasi ini dan hanya berbelanja sesuai kebutuhan rumah tangga. Langkah ini diambil untuk mencegah inflasi pada harga cabai.
Seorang pelaku UMKM di bidang kuliner bernama Yulan (43) mengatakan bahwa harga cabai rawit yang mencapai ratusan ribu sangat mengkhawatirkannya, karena makanan yang ia jual membutuhkan cabai rawit.
Yulan berharap pemerintah dapat melakukan intervensi harga agar harga cabai rawit kembali terjangkau.
Kenaikan harga cabai rawit sebagai komoditas bahan pangan telah berdampak pada peningkatan tingkat inflasi di Kota Gorontalo.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga sejumlah komoditas bahan pangan di Gorontalo terus meningkat.
Salah satu dari komoditas tersebut adalah cabai rawit yang saat ini terus mengalami kenaikan harga di pasar tradisional Kota Gorontalo. (jpg)