Lima Nyawa Hilang di Tambang Ilegal Pohuwato, Korban TNI Disersi hingga Mahasiswa

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:22 WIB

 

Evakuasi korban longsor tambang ilegal di Hulawa Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato (F:istimewa)
Evakuasi korban longsor tambang ilegal di Hulawa Kecamatan Buntulia Kabupaten Pohuwato (F:istimewa)

Gorontalopost, MARISA – Kabar duka datang dari kawasan tambang emas ilegal di 
Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. 

Lima orang meninggal dunia setelah longsor menerjang lokasi pertambangan di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Rabu sore (12/8/2026) .

Tragedi tersebut menyita perhatian setelah sejumlah informasi mengenai korban tertimbun  mulai beredar luas di media sosial pada Rabu malam. 

Kondisi lokasi yang gelap dan berlumpur membuat proses evakuasi berlangsung dalam situasi sulit.

Foto-foto yang beredar menunjukkan proses evakuasi korban. Sejumlah jasad terlihat telah dibungkus menggunakan karung dan dipikul menggunakan bambu dari lokasi kejadian.

Baca Juga: Sofyan Puhi Pastikan Paskibraka Kabupaten Gorontalo Siap Tugas 17 Agustus, Kekompakan Jadi Perhatian

Data sementara kemudian mengungkap identitas lima korban yang seluruhnya diketahui  berasal dari Kabupaten Boalemo. Mereka berada di kawasan tambang sebelum longsor  terjadi sekitar pukul 17.30 Wita.

Kelima korban memiliki latar belakang berbeda. Andi Otoluwa merupakan warga Desa  Bongonol, Kecamatan Paguyaman, yang tercatat sebagai TNI aktif dan disersi.

Empat korban lainnya yakni Miman Ibura (23), warga Desa Bendungan, Kecamatan 
Mananggu, yang bekerja sebagai penambang; 

Sandi Bilondatu (24), warga desa yang sama dan berstatus mahasiswa; Fikram Larange, yang juga berprofesi sebagai penambang; 

serta Pandra Galilu (28), warga Desa Bendungan yang bekerja sebagai wiraswasta.

Kelima jenazah kemudian dibawa ke RSU Pohuwato untuk mendapatkan penanganan sebelum dipulangkan kepada keluarga masing-masing. 

Baca Juga: Bone Bolango Rancang Kawasan Perdesaan untuk Dongkrak Ekonomi dan Tekan Kemiskinan

Direktur RSU Pohuwato, dr Dian Ikagustina Tambunan, mengungkapkan seluruh korban  telah meninggal ketika tiba di rumah sakit.

“Lima korban sudah dalam kondisi meninggal saat dirujuk ke rumah sakit sekitar pukul  04.00 subuh,” kata Dian.

Proses pemulangan jenazah dilakukan setelah seluruh penanganan di rumah sakit selesai. 

Sekitar pukul 07.00 Wita, kelima korban telah dibawa menuju rumah masing-masing di wilayah Kabupaten Boalemo.

“Jam 7 sudah clear semua, Pak. Korban sudah diantarkan ke rumah masing-masing,” 
ujarnya.

Sementara itu, satu korban lainnya masih menjalani perawatan di RSU Pohuwato. Korban  tersebut merupakan penambang yang berhasil selamat dari bencana longsor.

“Iya masih ada satu orang yang dirawat di RS,” katanya.

Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Marupa Sagala menyampaikan data sementara  yang diterima kepolisian mencatat enam korban.

Lima di antaranya meninggal dunia,  sedangkan satu korban dinyatakan selamat.

"Informasi sementara yang kita dapat kejadian itu kemarin, yang terdata sementara 
teridentifikasi sama polres laporannya ada 6 orang korban, 

yang meninggal 5 dan selamat itu tadi satu orang sementara," ujar Kabid Humas Polda  Gorontalo Kombes Marupa Sagala kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).

Adapun longsor terjadi pada Rabu (12/8) sekitar pukul 17.30 Wita di Desa Hulawa, 
Kecamatan Buntulia.

Lokasi pertambangan tersebut berada di kawasan Hutan Produksi  Terbatas (HPT) dengan Cagar Alam Panua.

Polisi masih menunggu informasi resmi lebih lanjut untuk mengungkap kronologi secara lengkap, termasuk memastikan seluruh data korban dan kondisi terkini di lokasi tambang.(Mg-08).

Editor : Azis Manansang
tambang emas Gorontalo POHUWATO Tambang Ilegal tragedi