Gorontalopost, PAGUYAMAN - Malam pra-Natal di Desa Wonggahu, Kecamatan Paguyaman,Kabupaten Boalemo.
membuktikan bahwa kedamaian tidak diukur dari ramainya kursigereja, tetapi dari kesiapan yang menopangnya.
Di Gereja Sion Sion, suasana ibadah berjalan hening, hanya dihadiri 15 jemaat, namun justru menjadi potret pengamanan yang paling terfokus.
Tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” bukan sekadar pesan altar,
melainkan pengingat bahwa keluarga dan rasa aman adalah inti yang saling menguatkan di momen Natal.
Saat banyak tempat larut dalam euforia, aparat Polsek Paguyangan memilih pendekatan berbeda, kecil dalam jumlah, besar dalam pengaruh.
Tiga personel Aiptu Sabri, Aiptu Arif, dan Koptu Sepri turun sejak sore, memetakan akses masuk,
mengamati potensi risiko, dan mengawal ruang ibadah dengan strategi senyap tapi terukur.
Bagi mereka, tugas pengamanan bukan tentang menunjukkan kehadiran, tetapi memastikan jemaat tidak pernah merasa terancam.
Sterilisasi area dilakukan sebelum doa pembuka dilantunkan.
Baca Juga: Legislatif Gorontalo Kritik Mitigasi Harga, 2026 Pemerintah Harus Jadi Sutradara, Bukan Cameo
Seorang petugas menyampaikan pesan dengan gaya baru yang menggantikan pernyataan formal sebelumnya,
“Damai itu bukan dekorasi Natal, tapi pondasi yang harus diperiksa sebelum lilin dinyalakan.”
Sementara itu Pendeta Apriliawati, yang memimpin ibadah, turut memberi sentuhan reflektif dalam apresiasinya.
Ia menyampaikan pesan yang kini lebih puitis namun tegas,
“Tuhan menyiapkan damai, dan kita bertanggung jawab menyiapkan ruangnya.”
Ibadah selesai pukul 21.00 WITA tanpa gangguan berarti. Jemaat pulang membawa lebih dari sekadar terang lilin.
Mereka membawa keyakinan bahwa kedamaian bisa dijaga bahkan di ruang kecil, jika dikelola dengan hati besar.
Panitia menutup malam dengan pesan yang kini dirumuskan ulang,
“Natal aman bukan tentang berapa banyak yang hadir, tapi tentang seberapa siap kita menjaga yang sedikit itu.”
Dan di Wonggahu, malam pra-Natal memberi pelajaran besar, damai harus dirawat, bukan hanya dirayakan. (Mg-07).
Editor : Azis Manansang