Boalemo Kaya Jagung tapi Masih Miskin, Rum Pagau Dorong Durian hingga Bambu Petung

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 13:17 WIB

 

Bupati Rum Pagau menyampaikan hal itu ketika membuka High Level Meeting dan Capacity Building Neraca Pangan di Cabana Resort Pantai Boluhutuo.(F:Diskominfo)
Bupati Rum Pagau menyampaikan hal itu ketika membuka High Level Meeting dan Capacity Building Neraca Pangan di Cabana Resort Pantai Boluhutuo.(F:Diskominfo)

Gorontalopost, TILAMUTA – Potensi jagung yang besar belum otomatis membuat masyarakat Boalemo sejahtera. 

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Bupati Boalemo Drs. Rum Pagau saat berbicara mengenai arah pembangunan ekonomi dan pangan daerah.

Rum Pagau menyampaikan hal itu ketika membuka High Level Meeting dan Capacity Building Neraca Pangan di Cabana Resort Pantai Boluhutuo, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Bukan Sekadar Tes, Profiling ASN Bone Bolango Jadi Jalan Menuju Manajemen Talenta

Forum tersebut digelar Bagian Ekonomi dan SDM dan dihadiri Deputi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Gorontalo Ciptoni Suryo Cendro, 

narasumber Badan Pangan Nasional Maino Dwi Hartono, S.TP., M.Si., instansi vertikal serta sejumlah pimpinan OPD terkait.

Pada kesempatan itu, Rum Pagau terlebih dahulu mengapresiasi perhatian Bank Indonesia terhadap pembangunan ekonomi di Gorontalo. 

Menurutnya, dukungan lembaga tersebut telah dirasakan melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat karena kebijakan pembangunan ekonomi membutuhkan pemahaman terhadap kondisi setiap daerah.

“Boalemo patut bersyukur mendapat perhatian dan dukungan dari Bank Indonesia. 
Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan secara maksimal

agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercatat dalam angka, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” kata Rum Pagau.

Baca Juga: Usai Dilantik, Pejabat Baru Pohuwato Dapat Tugas Khusus: Kesbangpol hingga BKPSDM Jadi Sorotan

Namun, ia mengingatkan bahwa potensi ekonomi Boalemo masih menyimpan persoalan yang harus segera dijawab. 

Salah satunya adalah paradoks antara produksi jagung yang besar dengan kondisi kesejahteraan masyarakat.

“Produksi jagung kita besar, tetapi kesejahteraan masyarakat belum mengikuti. Kalau komoditas kita menjadi yang terbesar, 

sementara kemiskinan juga masih tinggi, berarti ada persoalan dalam rantai ekonomi yang harus kita benahi,” jelasnya.

Rum Pagau mengatakan jagung memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Boalemo sejak lama. 

Akan tetapi, ketergantungan pada satu komoditas dinilai belum mampu membawa perubahan kesejahteraan secara signifikan bagi sebagian besar petani.

Karena itu, pemerintah daerah mulai mengarahkan kebijakan pada pengembangan tanaman tahunan yang dinilai memiliki prospek ekonomi jangka panjang. 

Durian, cokelat atau kakao, pala, kelapa sawit dan bambu petung masuk dalam program yang didorong pada periode kedua kepemimpinannya.

“Ke depan, kita tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas. Tanaman tahunan harus mulai dikembangkan karena kita ingin masyarakat memiliki sumber pendapatan yang bisa menjadi investasi jangka panjang,” ujar Rum Pagau.

Ia pun meminta pimpinan organisasi perangkat daerah mengambil peran langsung dengan menjadi contoh bagi masyarakat dalam mengembangkan tanaman tahunan.

Menurut Rum Pagau, perubahan pola pertanian tidak cukup hanya melalui imbauan. 
Pemerintah harus menunjukkan contoh dan membangun gerakan bersama agar program tersebut benar-benar berkembang di tengah masyarakat.

“Kalau kita ingin masyarakat bergerak, pemerintah harus memulai lebih dahulu. Saya berharap para pimpinan OPD ikut menanam 

dan menjadi contoh bahwa tanaman tahunan merupakan bagian dari upaya membangun kesejahteraan masyarakat Boalemo,” pungkasnya.(Mg-07).

Editor : Azis Manansang
Bank Indonesia Gorontalo JAGUNG Kemiskinan Bupati Boalemo