Karawo, Warisan Gorontalo yang Kian Langka, Jadi Andalan UMKM Bone Bolango Menembus Pasar Ekspor

Azis Manansang • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:44 WIB

 

Stand UMKM Bone Bolango yang mendapatkan dukungan Ketua Dekranasda Bone Bolango, Ruwaida Ismet Mile. (F:Diskominfo)
Stand UMKM Bone Bolango yang mendapatkan dukungan Ketua Dekranasda Bone Bolango, Ruwaida Ismet Mile. (F:Diskominfo)

Gorontalopost, GORONTALO – Di balik keindahan motif kain karawo, tersimpan keterampilan yang menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi. 

Teknik mengiris kain, kemudian menyulam benang untuk membentuk motif, menjadikan kerajinan khas Gorontalo ini memiliki karakter tersendiri. 

Namun, metode pengerjaan tradisional tersebut kini semakin jarang ditemukan, sehingga upaya memperkenalkannya kepada pasar menjadi penting bagi keberlanjutan kerajinan lokal.

Baca Juga: SIPD Bukan Sekadar Aplikasi, Kemendagri Sorot Akurasi Data dan Pengawasan Pembangunan Daerah

Potensi itu diperkenalkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten  Bone Bolango melalui pameran produk UMKM di Gedung GPCC Kota Gorontalo, Selasa  (13/10/2026). 

Pameran berlangsung di sela-sela kunjungan Istri Wakil Presiden RI, Selvi Ananda Gibran Rakabuming, bersama rombongan Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (SERUNI) Kabinet Merah Putih. 

Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan karya perajin dan produk usaha lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bone 
Bolango, Eriana Pajria Ningsih, menjelaskan bahwa 

keikutsertaan Dekranasda dalam kegiatan tersebut mendapat dukungan Ketua Dekranasda Bone Bolango, Ruwaida Ismet Mile. 

Dukungan itu diarahkan untuk memperkuat promosi produk lokal, meningkatkan 
nilai jual, dan membuka peluang agar hasil karya perajin semakin dikenal konsumen.

Menurut Eriana, karawo yang dipamerkan bukan sekadar kerajinan berciri khas daerah. 

Baca Juga: Lahan Kritis Bisa Jadi Ladang Penghasilan, Pemkab Gorontalo Lirik Peluang Bisnis Karbon

Produk tersebut telah memenuhi standar ekspor dan beberapa kali dikirim ke Jepang. 

Sebelum dipasarkan ke luar negeri, kain harus melalui proses kurasi, termasuk 
pemeriksaan kondisi bahan dan kerapian benang. 

Standar tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas produk sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar terhadap kerajinan Gorontalo.

Upaya pengembangan juga dilakukan dengan menghadirkan karawo dalam bentuk aksesori  etnik berupa kalung bermotif khas. 

Inovasi ini membuka kemungkinan agar warisan kerajinan tradisional dapat menjangkau konsumen dengan selera dan kebutuhan yang lebih beragam. 

Di stan yang sama, pengunjung juga diperkenalkan dengan produk pangan olahan, seperti keripik bawang yang menurut keterangan saat pameran dibuat tanpa penyedap rasa 

dan bahan pengawet, serta sejumlah makanan lainnya dengan harga mulai Rp16.000 hingga Rp 25.000.

Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa potensi UMKM Bone Bolango tidak hanya  terletak pada kerajinan,

tetapi juga pada usaha kuliner yang dapat dikembangkan sebagai  sumber ekonomi masyarakat. 

Melalui pameran, pengunjung berkesempatan melihat langsung kualitas produk, mengenal keunikan pembuatannya, dan mempertimbangkan pembelian. 

Dekranasda Bone Bolango berharap promosi semacam ini dapat membantu 
memperluas pasar UMKM

sekaligus menjaga agar kerajinan khas seperti karawo tetap  memiliki tempat di tengah perkembangan selera konsumen.(Mg-05).

Editor : Azis Manansang
Selvi Gibran Rakabuming dekranasda Bone Bolango UMKM karawo gorontalo