Gorontalopost, BUTLER – Setelah 43 tahun berlalu, aksi percobaan pembunuhan paling serius terhadap seorang presiden atau capres AS kembali terulang.
Insiden itu terjadi saat bakal calon presiden Donald Trump berkampanye di atas panggung di Butler, Pennsylvania.
Pada momen kampanye itu, Trump tengah memamerkan grafik jumlah penyeberangan migran di perbatasan. Setelah enam menit pidatonya, terjadilah insiden penembakan itu.
Meski dihujani tembakan beruntun Donald Trump lolos dari maut.
”And if you want to really see something, take a look what happened…” Kalimat terakhir yang diucapkan Donald Trump itu terputus oleh suara tembakan beruntun.
Sejurus kemudian, tangan kanan Trump memegang telinga kanannya. Saat itulah Trump menyadari terjadi penembakan.
Darah mengucur di sekitar wajah bagian kanan Trump. Pria 78 tahun itu dengan cepat merunduk. Di belakang Trump, enam personel Secret Service langsung mengerumuninya.
Suara tembakan dan teriakan masih terdengar di antara kerumunan massa yang berjumlah ribuan orang itu. Para petugas lainnya turut naik ke panggung sambil menenteng senapan.
Baca Juga: 325 Orang Korban Longsor Tambang Suwawa Timur Gorontalo, Operasi SAR Terpadu Dihentikan
Hanya dalam hitungan sekitar 1 menit setelah peluru menyasarnya, para agen itu mengangkat Trump untuk berdiri. ’’Sepatu saya, biarkan saya mengambil sepatu,’’ kata Trump sambil dibantu para agen.
Rambutnya acak-acakan. Topi merah bertulisan ’’Make America Great Again’’ yang dipakai presiden ke-45 AS itu entah di mana. Sejurus kemudian, Trump mengepalkan tangannya sambil berteriak ’’Fight, fight, fight!’’.
Teriakan itu dibalas para pendukungnya: ’’USA! USA!’’. Trump terus mengepalkan tinju saat para agen mendorongnya masuk ke mobil SUV. Kerumunan massa terus meneriakkan USA! USA!.
Baca Juga: Masa Tanggap Darurat Longsor Tambang Tulabolo Berakhir
Detik-detik penembakan Trump itu disiarkan langsung oleh banyak stasiun televisi di AS.
Dilansir dari AFP, US Secret Service menyebutkan, penembakan itu mengakibatkan seorang penonton tewas dan dua lainnya kritis.
Dinas Rahasia AS itu menambahkan, tembakan tersebut dilepaskan dari posisi yang lebih tinggi daripada panggung.
Insiden penembakan kepada Trump itu merupakan upaya pertama untuk membunuh seorang presiden atau calon presiden sejak Presiden AS Ronald Reagan ditembak pada 1981 silam.
Bahaya kampanye meningkat setelah pembunuhan Robert F. Kennedy di California pada 1968.
Baca Juga: Kapolda Gorontalo Serahkan Jenazah Korban Longsor Tambang Suwawa Kepada Keluarga
Ancaman itu kembali muncul pada 1972 ketika Arthur Bremer menembak dan melukai George Wallace, kandidat independen yang platform kampanyenya kadang dibandingkan dengan Trump.
Pelaku penembakan kepada Trump dinyatakan tewas. Beberapa jam setelah insiden itu, FBI menyebut telah mengidentifikasi Thomas Matthew Crooks sebagai pelaku.
Saat melancarkan aksinya, pemuda 20 tahun itu disebut melepaskan sekitar selusin peluru dengan senapan semiotomatis tipe AR-15.
Sumber New York Post menyebutkan, Crooks beraksi dari atap pabrik yang berjarak sekitar 130 meter dari panggung Trump di Butler Farm Show.
Dari catatan pemungutan suara di negara bagian, Crooks terdaftar sebagai anggota Partai Republik yang notabene mengusung Trump sebagai capres.
Baca Juga: Pemprov Gorontalo Gelar Salat Lidaf’ill Bala
Catatan menunjukkan Crooks terdaftar sebagai pemilih Partai Republik di Pennsylvania, tetapi laporan keuangan kampanye federal juga menunjukkan.
Bahwa dia memberikan USD 15 kepada komite aksi politik progresif pada 20 Januari 2021, hari ketika Presiden Joe Biden dilantik.
Motif mengapa Crooks menembak capres dari partai yang didukungnya belum jelas.
’’Malam ini kami mengalami apa yang disebut sebagai percobaan pembunuhan terhadap mantan presiden kita, Donald J. Trump.
Ini masih merupakan penyelidikan aktif,’’ ujar agen khusus FBI Kevin Rojek sambil menunjukkan bahwa pihaknya memiliki sejumlah agen yang menyelidiki insiden tersebut.
Setelah melalui hari yang menegangkan, Trump dilaporkan dalam kondisi stabil. Dia keluar dari sebuah rumah sakit setelah mendapat perawatan, sebut dua sumber kepada CBS News.(JPC).
Editor : Azis Manansang