Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Mome’ati,Tradisi Sakral Gorontalo Sambut Kedewasaan Perempuan

Nur Fadilah • Jumat, 4 Juli 2025 | 11:23 WIB

 

Saat menstruasi, area kewanitaan akan rawan iritasi karena terpapar darah menstruasi. (Foto: Pexels/Karolina Grabowska)
Saat menstruasi, area kewanitaan akan rawan iritasi karena terpapar darah menstruasi. (Foto: Pexels/Karolina Grabowska)

GORONTALOPOST
-Di tengah arus modernisasi yang terus bergulir, tradisi lokal tetap menjadi penanda penting identitas budaya suatu daerah.

Salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan masyarakat Gorontalo hingga kini adalah “Mome’ati”sebuah tradisi sakral yang diperuntukkan bagi anak perempuan yang pertama kali mengalami menstruasi.

Tradisi ini bukan sekadar upacara adat. Mome’ati merupakan wujud penghormatan terhadap proses biologis sekaligus simbol transisi penting dalam kehidupan perempuan: dari anak-anak menuju gerbang kedewasaan.

Makna di Balik Kata "Mome’ati"

Kata Mome’ati sendiri berasal dari bahasa Gorontalo, yakni dari akar kata me’ati yang berarti “menginjak” atau “memasuki.” Dalam konteks budaya, makna ini menggambarkan seorang anak perempuan yang telah menginjak fase baru dalam hidupnya masa akil balig.

Tradisi ini lazim dilaksanakan oleh keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual kepada sang anak.

Bagi masyarakat Gorontalo, menstruasi pertama bukan sekadar fenomena biologis, melainkan penanda penting bahwa seorang perempuan kini memiliki tanggung jawab baru, baik secara sosial maupun spiritual.

Rangkaian Momen Mome’ati

Pelaksanaan Mome’ati biasanya dilakukan di rumah, dalam suasana yang khidmat dan penuh doa. Anak perempuan yang menjalani mome’ati akan diberi nasihat oleh orang tua dan tokoh adat, khususnya ibu dan para perempuan dewasa dalam keluarga.

Pesan-pesan yang disampaikan umumnya seputar menjaga kehormatan diri, akhlak, kebersihan, dan tanggung jawab sebagai perempuan dalam pandangan Islam.

Sering kali, anak yang menjalani mome’ati akan dipakaikan busana tradisional Gorontalo sebagai simbol bahwa dirinya kini telah menjadi bagian dari komunitas dewasa. Doa-doa dan bacaan Al-Qur’an pun menyertai prosesi tersebut untuk menguatkan sisi religius dan spiritual dari tradisi ini.

Persimpangan Antara Adat dan Ajaran Islam

Meskipun Mome’ati merupakan tradisi lokal, praktik ini sangat kental dengan nilai-nilai keislaman.

Pesan-pesan moral yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga aurat, perilaku, dan tanggung jawab sosial sebagai perempuan muslimah. Dengan demikian, mome’ati menjadi bentuk akulturasi antara adat dan agama yang berjalan harmonis di masyarakat Gorontalo.

Makna yang Terus Dijaga di Era Modern

Di tengah kehidupan modern yang serba instan, tradisi seperti Mome’ati tetap relevan untuk dipertahankan. Tidak hanya sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter bagi generasi muda terutama dalam hal pemahaman tentang kedewasaan, nilai-nilai moral, serta penghormatan terhadap tubuh dan peran diri sebagai perempuan.

Bagi sebagian kalangan, Mome’ati bahkan dianggap sebagai bentuk “soft education” yang sangat efektif dalam memperkenalkan konsep tanggung jawab sejak dini, tanpa harus menggurui.

Tradisi Mome’ati adalah cermin kearifan lokal Gorontalo dalam memaknai fase penting dalam kehidupan seorang perempuan. Lebih dari sekadar seremoni, ia merupakan pengantar spiritual dan sosial yang kaya nilai, mempererat hubungan antara individu, keluarga, dan masyarakat.

Di tengah derasnya perubahan zaman, Mome’ati mengingatkan kita bahwa setiap perubahan dalam hidup patut disambut dengan doa, penghormatan, dan kesadaran akan tanggung jawab yang menyertainya.(*)

 

Editor : Nur Fadilah
#Gorontalo #tradisi #menstruasi