GORONTALOPOST - Pernahkah kamu bertanya, "Siapa diri kita sebenarnya?" Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi sangat rumit, terutama bagi mereka yang hidup dengan lebih dari satu kepribadian.
Kondisi ini dikenal dengan nama gangguan identitas disosiatif atau Dissociative Identity Disorder (DID).
Meskipun masih sering diperdebatkan, banyak dokter dan psikolog mengakui bahwa gangguan ini memang nyata.
Tapi, bagaimana sebenarnya rasanya memiliki kepribadian yang berbeda-beda?
Mengapa Gangguan Identitas Disosiatif Terjadi?
DID sering kali muncul akibat trauma berat pada masa kecil. Pengalaman masa lalu yang sangat menyakitkan dapat menyebabkan seseorang membentuk beberapa kepribadian sebagai mekanisme pertahanan diri.
Diperkirakan bahwa sekitar tiga dari 200 orang mengalami kondisi ini, meskipun banyak yang tidak terdiagnosis atau salah didiagnosis.
DID tidak memiliki obat, dan penanganannya sering kali melibatkan terapi jangka panjang untuk membantu menyatukan kepribadian yang terpecah.
Bagaimana Rasanya Hidup dengan Kepribadian Ganda?
Mengganti kepribadian bukanlah hal yang sederhana seperti mengganti baju. Perubahan ini bisa membuat pengidapnya lupa akan apa yang baru saja mereka lakukan.
Misalnya, seseorang bisa mengalami jeda waktu di mana mereka tidak memiliki ingatan tentang tindakan yang dilakukan oleh kepribadian lain.
Beberapa pengidap DID mungkin memiliki dua atau tiga kepribadian, tetapi ada juga yang memiliki puluhan hingga seratus kepribadian berbeda.
Tidak seperti yang digambarkan dalam film-film, perubahan kepribadian tidak selalu ekstrem. Banyak pengidap DID yang tampil dan berperilaku seperti orang biasa.
Meskipun demikian, tantangan sehari-hari tetap ada.
Perubahan kepribadian dapat terjadi tanpa peringatan, mempengaruhi hubungan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari mereka.
Stigma dan Kesalahpahaman
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi pengidap DID adalah stigma dan kesalahpahaman masyarakat.
Film dan media sering kali menggambarkan mereka sebagai individu yang berbahaya dan tidak terduga, padahal kenyataannya mereka lebih sering menjadi korban daripada pelaku kekerasan.
Misalnya, mereka mungkin mengalami kekerasan atau pengucilan karena ketidakpahaman orang-orang di sekitar mereka.
Ada juga kasus di mana orang berpura-pura memiliki DID untuk alasan yang tidak jujur, seperti mencoba mengurangi hukuman atas tindakan kriminal.
Kasus-kasus seperti ini hanya memperburuk stigma dan membuat orang lebih skeptis terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Penting untuk memahami bahwa DID adalah kondisi yang nyata dan membutuhkan penanganan medis yang serius.
Pengidap DID sering kali membutuhkan dukungan yang konstan dan pemahaman dari orang-orang di sekitar mereka.
Stigma negatif hanya memperparah penderitaan mereka, sementara bantuan medis dan dukungan psikologis bisa membantu mereka menjalani hidup yang lebih layak.
Bantuan profesional, seperti terapi disosiatif, bisa sangat membantu dalam menyatukan kepribadian yang terpecah dan mengurangi gejala.
Masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran dan empati terhadap kondisi ini, sehingga pengidap DID bisa merasa lebih diterima dan didukung.
Baca Juga: Mengapa Kita Bertindak Seperti Ini? 10 Fakta Psikologi Tentang Perilaku Manusia
Kepribadian ganda bukanlah sekadar konsep dari film atau cerita fiksi. Ini adalah realitas yang dialami oleh banyak orang di sekitar kita.
Mereka menghadapi tantangan yang luar biasa setiap hari dan layak mendapatkan pemahaman serta dukungan yang memadai.
Dengan pengetahuan dan empati, kita bisa membantu mengurangi stigma dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Mari kita bersama-sama memahami dan mendukung mereka yang hidup dengan DID, membantu mereka untuk tetap hidup dengan layak dan dihargai sebagai manusia, berapa pun banyaknya kepribadian yang mereka miliki. ***
Sumber: Youtube @Kok Bisa?
Editor : Tina Mamangkey