Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tak Mau Punya Anak? Ini 8 Alasan Psikologis di Balik Keputusan Childfree

Tina Mamangkey • Kamis, 4 Juli 2024 | 08:35 WIB

GORONTALOPOST - Di era modern ini, tren childfree, di mana pasangan atau individu memilih untuk tidak memiliki anak, semakin marak diperbincangkan.

Anggapan miring dan stigma negatif kerap dilekatkan pada mereka yang memilih childfree.

Namun, tahukah Anda bahwa di balik keputusan ini, terdapat berbagai alasan psikologis dan personal yang mendasarinya?

Berdasarkan data BPS, tren childfree di Indonesia menunjukkan peningkatan, terutama pada kalangan perempuan.

Artikel ini akan mengupas 8 alasan psikologis di balik keputusan childfree, membongkar mitos yang sering beredar, dan membuka ruang untuk memahami perspektif yang lebih luas, 

Berikut delapan alasan dibalik seseorang yang memutuskan untuk tidak memiliki anak dilansir dari Psychology Today.

1. Keinginan

Alasan fundamental di balik childfree adalah ketidakhadiran keinginan untuk memiliki anak.

Hal ini bukan berarti mereka tidak menyukai anak-anak, tetapi lebih pada pertimbangan matang tentang kesiapan diri dan pasangan dalam mengasuh dan membesarkan anak.

Bagi beberapa individu, menjadi orang tua bukanlah jalan hidup yang mereka impikan.

2. Karir

Bagi perempuan karir, memiliki anak dapat menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai tujuan profesional.

Konflik antara karir dan peran ibu kerap menjadi pertimbangan utama.

Childfree memungkinkan perempuan untuk fokus mengejar karir, mengembangkan potensi diri, dan mencapai kesuksesan di bidang yang mereka minati.

3. Kondisi Ekonomi

Membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Kondisi ekonomi yang belum stabil dapat menjadi alasan kuat bagi pasangan untuk menunda atau bahkan tidak memiliki anak.

Keinginan untuk memberikan kehidupan yang layak dan masa depan yang terjamin bagi anak mendorong mereka untuk mempertimbangkan childfree.

4. Kondisi Kesehatan

Bagi perempuan dengan kondisi kesehatan tertentu, kehamilan dan persalinan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius.

Keputusan childfree diambil sebagai bentuk pencegahan dan prioritas terhadap kesehatan fisik dan mental.

5. Usia

Usia juga menjadi faktor penting dalam pertimbangan childfree.

Pasangan yang menikah di usia yang lebih tua mungkin memiliki waktu yang lebih terbatas untuk membesarkan anak.

Keputusan ini diambil dengan pertimbangan matang dan kesiapan mental untuk menjadi orang tua.

6. Tanggung Jawab

Membesarkan anak membutuhkan tanggung jawab yang besar, tidak hanya secara finansial, tetapi juga mental dan emosional.

Bagi pasangan yang belum merasa siap dengan tanggung jawab tersebut, childfree menjadi pilihan untuk menghindari risiko anak-anak terlantar atau tidak mendapatkan pengasuhan yang optimal.

7. Lingkungan

Kerusakan lingkungan, polusi, dan krisis iklim menjadi kekhawatiran bagi beberapa individu.

Mereka mempertimbangkan dampak negatif lingkungan terhadap kualitas hidup dan masa depan anak, sehingga memilih childfree sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian bumi.

8. Alasan Lain

Alasan untuk childfree dapat bersifat sangat personal dan beragam.

Beberapa pertimbangan lain seperti trauma masa kecil, riwayat kesehatan keluarga, gaya hidup, hingga filosofi hidup dapat menjadi faktor yang mendasari keputusan ini.

Penting untuk diingat bahwa childfree merupakan pilihan hidup yang harus dihormati.

Keputusan ini tidak didasarkan pada keegoisan atau ketidaksukaan terhadap anak, melainkan pertimbangan matang dan bertanggung jawab atas masa depan diri sendiri dan pasangan. (jpg)

 

Editor : Tina Mamangkey
#memiliki anak #orangtua #tidak #pasangan #alasan #Childfree #orang #Memutuskan