Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Psikolog Ungkap, Mengikuti Tren Viral Tanda Masalah Kurang Percaya Diri

Tina Mamangkey • Jumat, 17 Januari 2025 | 18:25 WIB
Ilustrasi,
Ilustrasi,

GORONTALOPOST - Di era media sosial yang semakin berkembang, mengikuti tren viral menjadi hal yang umum dilakukan oleh banyak orang. Fenomena ini sering kali melibatkan berbagai tantangan atau hal-hal yang dianggap menarik oleh banyak orang, namun bisa jadi itu adalah tanda adanya masalah yang lebih dalam.

Psikolog Klinis, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI), mengatakan bahwa mengikuti tren viral dapat menjadi indikasi adanya masalah kurang percaya diri.

Di balik dorongan untuk mengikuti tren viral, sering kali terdapat rasa takut akan tertinggal, atau yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).

Anna menjelaskan bahwa banyak orang mengikuti tren viral bukan hanya karena keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, tetapi lebih karena takut dianggap ketinggalan oleh orang lain.

“Bisa sih memang karena takut tertinggal dari orang-orang lain, fear of missing out. Namun seringkali ini juga mencakup masalah kurang percaya diri sehingga ikut-ikutan orang lain. Kurang percaya diri itu masalah mental kan,” ungkap Anna.

Ketika seseorang merasa kurang percaya diri, mereka cenderung mencari validasi dari luar, dan media sosial sering kali menjadi tempat untuk mencari pengakuan tersebut. Mengikuti tren viral menjadi salah satu cara untuk merasa diterima dan tidak terisolasi.

Selain kurang percaya diri, ada juga masalah mental lainnya yang bisa terlihat dari kecenderungan mengikuti tren viral. Anna menyoroti fenomena pleasing others, di mana seseorang lebih mementingkan untuk menyenangkan orang lain daripada mendengarkan kebutuhan dirinya sendiri.

Dalam hal ini, mengikuti tren viral bisa menjadi cara seseorang untuk memenuhi harapan orang lain, meskipun hal tersebut tidak sesuai dengan nilai atau keinginannya.

“Masalah mental lain yang mungkin terjadi misalnya pleasing others atau maunya menyenangkan orang lain dibandingkan mendengarkan dirinya sendiri. Jika yang viral itu berbahaya, beberapa orang melakukannya karena punya kebutuhan tinggi akan tantangan, tapi ini bisa juga jadi masalah mental,” jelas Anna.

Mengikuti tren viral juga tidak jarang menyebabkan dampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Anna menekankan bahwa beberapa tren yang viral bisa berbahaya dan merugikan, seperti merusak fasilitas umum atau melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab hanya untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan di media sosial.

Fenomena ini semakin menonjol di kalangan individu yang mungkin memiliki masalah sosial. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh tren viral tanpa mempertimbangkan dampak buruknya. Seiring berjalannya waktu, perilaku ini bisa menyebabkan kerugian bagi masyarakat atau bahkan diri mereka sendiri.

Ternyata, mengikuti tren viral bisa berujung pada kecanduan. Jika seseorang sudah mulai kecanduan mengikuti tren tertentu, ini bisa menjadi tanda masalah mental yang lebih serius.

Anna menjelaskan bahwa kecanduan semacam ini memerlukan penanganan khusus dari profesional seperti psikolog klinis atau psikiater.

“Mengikuti sesuatu yang viral sudah menjadi kecanduan, untuk menghentikannya perlu membutuhkan bantuan secara intensif oleh profesional, yaitu psikolog klinis dan psikiater, mereka yang punya keterampilan psikoterapi,” ujarnya.

Untuk membantu seseorang yang sudah terjebak dalam kecanduan mengikuti tren viral, pendekatan dari orang-orang terdekat sangatlah penting.

Anna mengungkapkan bahwa keluarga atau teman-teman yang mengenal dengan baik bisa membantu seseorang menyadari bahwa perilaku tersebut sudah merugikan.

“Untuk membuat orang yang kecanduan mengikuti yang viral itu mau datang ke profesional bisa dengan pendekatan oleh orang yang mengenal dia, dan menyampaikan bahwa ikut-ikutannya ini udah merugikan bagi dia. Misalnya membuat dia jadi bolos sekolah atau bahkan tidak bekerja, membahayakan diri atau orang lain,” jelas Anna.

Melalui pendekatan yang penuh perhatian dan empati, diharapkan seseorang yang sedang berjuang dengan kecanduan ini mau mencari bantuan profesional dan keluar dari siklus yang merugikan tersebut. (*/antara)

Editor : Tina Mamangkey
#tren viral #masalah #psikolog #tanda #kurang #Percaya Diri