GORONTALOPOST– Sebuah upaya pelestarian budaya tengah menghangat di Desa Bubeya, Kecamatan Suwawa. Masyarakat setempat menggeliatkan kembali tradisi lisan Legedo, sebuah bentuk pantun berbahasa Suwawa yang kini dikemas lebih meriah dengan iringan musik dan tarian tradisional.
Tradisi ini kembali dipentaskan dalam kegiatan revitalisasi bahasa dan kesenian daerah Suwawa, dengan melibatkan generasi tua yang masih menyimpan pengetahuan asli tentang warisan budaya tersebut.
Achril Y. Babyonggo selaku pengajar utama menjelaskan bahwa Legedo dulunya dilantunkan secara langsung tanpa iringan musik, hanya mengandalkan suara dan irama lisan semata.
"Legedo adalah pantun berbahasa Suwawa yang dulunya dilantunkan tanpa alat musik. Tapi kali ini kami ingin memperindah tampilannya dengan menambahkan alat musik tradisional dan tarian Dana-Dana," ujar Achril, Minggu (6/7).
Dalam penampilan baru ini, Legedo diiringi oleh perpaduan alat musik tradisional dan modern, seperti gambus, marwas, dan biola. Khusus biola digunakan untuk menambah nuansa sendu dan emosional dalam lantunan pantun tersebut.
Tak hanya itu, tarian Dana-Dana yang turut ditampilkan juga mengalami penyegaran. Jika sebelumnya memiliki pola gerakan yang sederhana, kini tarian itu tampil dengan sembilan variasi gerak yang dirancang untuk mendukung dan memperkaya penyampaian makna dalam pantun Legedo.
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari warga dan pecinta budaya daerah. Selain menjadi wahana pelestarian bahasa Suwawa, kegiatan ini juga menjadi panggung edukatif bagi generasi muda agar tak melupakan akar budaya mereka sendiri.
"Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi juga ajakan untuk merawat jati diri Suwawa melalui bahasa, musik, dan tarian," kata Achril.
Revitalisasi Legedo ini menjadi sinyal bahwa budaya daerah, jika digarap dengan kreatif dan kolaboratif, bisa tetap hidup, bahkan semakin menarik di tengah arus modernisasi.(antara)
Editor : Nur Fadilah