GORONTALOPOST - Nyai Blorong dikenal sebagai sosok mistis setengah ular, setengah wanita cantik, yang lekat dengan kisah pesugihan di pantai selatan Jawa.
Menurut Detik, ia disebut sebagai panglima perang dari Kanjeng Ratu Kidul yang bisa memberikan kekayaan kepada orang yang bersedia membayar dengan tumbal jiwa.
Sosok ini konon menetas dari telur di gua Karang Bolong dan tumbuh menjadi naga besar sebelum berubah menjadi wanita jelita dalam waktu satu bulan.
Dalam legenda Jawa, jika seseorang menukarkan nyawanya atau orang terdekatnya, ia akan mendapat kekayaan instan berupa emas, harta, dan pangkat.
Sumber Belanda dari akhir abad ke-19 bahkan mencatat kisah nelayan bernama Sidin yang rela bertukar nyawa demi masuk ke keraton emas laut selatan.
InsertLive menyebutkan bahwa ketika Sidin masuk ke gua dan melakukan ritual, gua tersebut seketika berubah menjadi istana emas yang dindingnya dilapisi sisik ular.
Kompas mencatat bahwa Nyai Blorong digambarkan memakai kebaya hijau berhias emas dan sisiknya rontok menjadi kepingan emas sebagai bayaran pesugihan.
Konon, para pengikutnya akan menjadi bagian dari penghuni keraton Laut Selatan jika mereka meninggal dalam ikatan perjanjian.
Masih menurut Kompas, sosok Nyai Blorong bisa berubah menjadi ular raksasa saat bulan sabit, dan berubah menjadi wanita sangat cantik saat bulan purnama.
Cerita-cerita ini masih kuat beredar di masyarakat, terutama di daerah Jawa Tengah, seperti Sukoharjo, Juwana, dan wilayah Pelabuhan Ratu.
Baca Juga: Menguak Misteri, 3 Tanggal Lahir Kesukaan Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan
Menurut InsertLive, Sidin dan istrinya dulunya adalah pasangan miskin sebelum percaya bahwa Nyai Blorong adalah jalan pintas menuju kekayaan.
Detik melaporkan bahwa banyak versi cerita beredar, namun intinya selalu sama: emas diberikan sebagai imbalan jika sang pemohon rela menyerahkan tumbal.
Dalam versi yang lebih ekstrem, tumbal yang diberikan bukan hanya pemohon, melainkan bisa juga anak, pasangan, atau keluarga terdekat.
Sisik emas yang muncul disebut berasal dari tubuh ular raksasa yang berubah wujud, biasanya ditemukan setelah ritual selesai.
Karena itu, tumbal jiwa dianggap sebagai “harga sah” yang harus dibayar untuk mendapatkan emas secara gaib dari pesugihan ini.
Legenda ini kerap dijadikan peringatan bahwa kekayaan yang datang cepat, bisa juga hilang cepat dan disertai risiko sangat besar.
Di sisi lain, kisah mistis ini menjadi daya tarik wisata supranatural, termasuk pengunjung yang datang ke Karang Bolong untuk sekadar "mencari atmosfer mistis".
Namun, banyak juga masyarakat yang skeptis terhadap kisah ini, menganggapnya hanya sebagai cerita rakyat turun-temurun tanpa bukti ilmiah.
Meski demikian, kisah Nyai Blorong tetap ramai dibicarakan, terutama di media sosial dan kanal YouTube bertema mistis.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap dunia gaib dan pesugihan masih sangat kuat di kalangan masyarakat Indonesia.
Akhirnya, kisah Nyai Blorong menjadi refleksi bahwa di balik cerita kekayaan instan, ada dilema moral dan risiko spiritual yang sangat besar.
(rm)
Editor : Priska Watung