Penelitian baru menunjukkan hubungan yang mengejutkan antara kualitas tidur dan kepercayaan terhadap teori konspirasi.
Tidur yang cukup sangat penting, bukan hanya buat tubuh tapi juga buat kesehatan pikiran.
Menurut penelitian dari University of Nottingham, orang yang tidur kurang dari 6 jam per malam cenderung lebih percaya pada teori konspirasi.
Dilansir dari New York Post, penelitian ini dilakukan dengan mengamati kebiasaan tidur dan tingkat kepercayaan terhadap berbagai teori konspirasi dari lebih dari 1.000 partisipan.
Mereka yang sering begadang atau mengalami gangguan tidur punya tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap informasi tidak berdasar.
Studi ini juga menemukan bahwa perasaan marah, sedih, hingga paranoia jadi lebih sering muncul saat seseorang kurang tidur.
Kondisi ini bisa membuat seseorang lebih mudah dipengaruhi oleh berita palsu atau teori tanpa bukti.
Misalnya, percaya bahwa vaksin adalah alat kontrol populasi atau bahwa bumi itu datar.
Peneliti menyebut bahwa kurang tidur memperlemah kemampuan otak untuk menyaring informasi dan berpikir logis.
Dalam istilah psikologi, ini disebut sebagai cognitive distortion, yaitu pola pikir yang salah dan seringkali tidak rasional.
Kurangnya istirahat juga bisa menurunkan tingkat critical thinking atau kemampuan berpikir kritis seseorang.
Ketika seseorang berada dalam kondisi lelah secara mental, mereka jadi lebih mudah menerima informasi tanpa banyak pertimbangan.
Dampaknya bukan cuma soal kepercayaan, tapi juga bisa mempengaruhi hubungan sosial dan keputusan sehari-hari.
Hal ini penting dipahami, apalagi di zaman digital di mana informasi menyebar begitu cepat.
Tidur yang cukup bisa membantu seseorang menjaga kesehatan mental dan lebih waspada terhadap hoaks.
Para ahli menyarankan untuk tidur minimal 7–8 jam per malam untuk orang dewasa.
Buat kamu yang sering begadang, mungkin ini saatnya mulai mengatur ulang pola tidurmu.
Jangan sampai kamu jadi korban teori konspirasi cuma gara-gara kurang tidur, ya!
Karena ternyata, tidur cukup bisa bantu kamu tetap waras dan berpikir jernih.
(hand)
Editor : Priska Watung