Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Ternyata Bukan Depresi! Ini Penyebab Kamu Ngerasa ‘Stuck’ Sepanjang Hari – Meski Nggak Gakut

Priska Watung • Jumat, 1 Agustus 2025 | 10:02 WIB
Photo
Photo

GORONTALOPOST - Pernah ngerasa hidup kayak ngambang? Nggak sedih, tapi juga nggak bahagia? Bisa jadi kamu lagi ngalamin languishing.

Istilah ini dipopulerkan oleh psikolog Corey Keyes untuk menggambarkan kondisi mental yang nggak sehat, tapi juga belum masuk kategori gangguan seperti depresi.

Languishing itu kayak hidup di mode “pause”. Kamu bisa kerja, belajar, atau ngobrol, tapi semuanya berasa kosong. Nggak ada gairah, semangat, atau rasa puas.

Menurut GQ, languishing bisa membuat seseorang kehilangan motivasi dan arah, meski mereka terlihat baik-baik saja secara fisik.

Banyak yang salah sangka kalau ini cuma rasa bosan biasa. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini bisa berujung pada burnout atau bahkan depresi.

Dilansir dari The Australian, sekitar 1 dari 5 orang di dunia mengalami languishing selama pandemi. Dan sayangnya, banyak yang nggak sadar.

Ciri-cirinya mirip sama “kecapean batin”. Kamu jadi lebih sering bengong, susah fokus, dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya kamu suka.

Menurut Verywell Mind, gejala lainnya termasuk susah tidur, mudah marah, dan rasa kehilangan makna hidup. Serem juga, kan?

Masalahnya, languishing ini sering diabaikan karena nggak kelihatan serius. Tapi justru karena itu, dia jadi berbahaya dalam jangka panjang.

Baca Juga: Sibuk Stress? Remaja Rentan Kecanduan Game Online! Ini Cara Otak Bereaksi Saat Bosan

Beberapa ahli menyebutnya sebagai “mental health middle child”. Nggak sekritis depresi, tapi cukup mengganggu untuk bikin hidup stagnan.

Solusinya bukan obat, tapi gaya hidup yang mindful. Coba mulai dengan rutinitas kecil yang kasih rasa ‘meaning’ dan ‘control’.

Misalnya, bangun pagi tanpa scroll HP, ngopi sambil baca buku, atau olahraga ringan di pagi hari. Hal sederhana, tapi berdampak.

GQ menyarankan untuk melatih otak dengan aktivitas yang memberikan tantangan kecil. Misalnya belajar main alat musik atau merangkai Lego.

Koneksi sosial juga penting. Berinteraksi dengan teman atau keluarga bisa jadi pemantik semangat yang hilang.

Selain itu, hindari multitasking berlebihan. Fokus pada satu hal dalam satu waktu bisa membantu otak merasa lebih ‘utuh’.

Beri jeda di tengah aktivitas harian, kayak “microbreak” 5-10 menit buat jalan santai atau tarik napas panjang. Itu bisa bantu reset mood.

Menurut The Australian, terapi berbasis komunitas seperti berkebun bareng atau grup diskusi bisa jadi cara alami untuk keluar dari languishing.

Yang perlu diingat, kamu nggak sendirian. Banyak orang juga lagi berjuang keluar dari kabut mental ini.

Kalau gejalanya makin berat dan berkepanjangan, konsultasi ke psikolog sangat disarankan. Jangan nunggu sampai semuanya makin kacau.

Intinya, hidup bukan tentang selalu semangat, tapi gimana kamu bisa sadar saat diri lagi ‘tersesat’. Dari situ, langkah awal bisa dimulai.

Jangan abaikan sinyal yang tubuh dan pikiran kasih. Languishing bukan aib, tapi alarm supaya kamu bisa hidup lebih bermakna lagi.

(rm)

Editor : Priska Watung
#kesehatan mental #Burnout #psikologi remaja #languishing #gaya hidup sehat