Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Bendungan Makan Korban: Arwah Tumbal Penunggu Kedung Pengilon Terus Minta Pembayaran!

Priska Watung • Rabu, 6 Agustus 2025 | 08:00 WIB
Kedung Pengilon
Kedung Pengilon

GORONTALOPOST - Kedung Pengilon, sebuah bendungan tua yang terletak di Kendal, Jawa Tengah, menyimpan kisah yang membuat bulu kuduk merinding. Bukan hanya karena usia bangunannya yang tua, tapi juga karena mitos mistis yang menyelimutinya.

Warga sekitar percaya bahwa tempat ini dihuni oleh makhluk halus dan arwah penasaran, terutama dari korban yang tenggelam. Mereka menyebut para korban itu sebagai “tumbal”.

Menurut penuturan warga Desa Kebonadem, beberapa korban tenggelam tanpa sebab yang jelas. Tubuh mereka tidak ditemukan hingga berhari-hari dan kadang muncul dalam keadaan aneh.

Dilansir dari Radar Jogja, mitos Kedung Pengilon sudah ada sejak zaman kolonial. Bendungan ini dulunya dibangun Belanda untuk mengatur aliran air di daerah bawah.

Namun, karena lokasinya yang sunyi dan dikelilingi pepohonan lebat, tempat ini perlahan-lahan dikenal sebagai kawasan angker.

Banyak warga mengaku mendengar suara-suara misterius saat melewati bendungan di malam hari. Ada yang mendengar tangisan, jeritan, bahkan suara seperti orang tenggelam.

Beberapa saksi mata mengaku pernah melihat penampakan perempuan berbaju putih berdiri di atas air. Sosok ini sering muncul sebelum ada kejadian tenggelam.

Masyarakat sekitar percaya bahwa makhluk gaib penunggu bendungan meminta “bayaran” dalam bentuk tumbal manusia jika bendungan terlalu lama tidak diberi sesaji.

Baca Juga: Makhluk Gaib Ini Seperti Karpet Hantu! Cuero del Agua, Kulit Hidup yang Hisap Darah & Telan Korban di Sungai Amerika Selatan

Sesaji ini biasanya berupa bunga, jajanan pasar, bahkan kepala ayam. Ritual dilakukan oleh tetua kampung atau orang pintar setempat.

Jika ritual tidak dilakukan, warga percaya bendungan akan “meminta” korban. Biasanya terjadi saat musim kemarau atau menjelang musim hujan.

Meski sulit dipercaya secara logika, kepercayaan ini masih kuat dipegang hingga sekarang, terutama oleh generasi tua.

Anak-anak pun dilarang mandi atau bermain air di sekitar bendungan. Orang tua akan memperingatkan keras karena takut mereka jadi korban berikutnya.

Menurut pandangan budaya Jawa, tempat-tempat yang berkaitan dengan air seperti sumur, danau, dan bendungan dianggap memiliki energi gaib yang kuat.

Energi ini bisa bersifat positif jika dihormati, namun bisa menjadi bencana jika diabaikan atau dihina.

Selain mistis, warga juga meyakini bendungan ini memiliki air yang sakral. Beberapa orang menyimpan airnya sebagai pelindung dari gangguan gaib.

Ada pula yang percaya bahwa air Kedung Pengilon bisa digunakan untuk mengusir jin atau menyembuhkan sakit non-medis, tentu setelah melalui ritual tertentu.

Cerita-cerita mistis ini terus diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas lokal desa.

Meskipun ada teknologi dan pendidikan modern, kepercayaan ini tetap hidup berdampingan dengan kehidupan sehari-hari warga.

Bagi mereka, kisah Kedung Pengilon bukan sekadar mitos, tapi juga peringatan agar manusia tidak sombong dan selalu menghormati alam.

Maka jangan heran jika hingga hari ini, banyak warga yang masih rutin melakukan sedekah bumi atau sesaji air demi menjaga “keseimbangan” antara dunia nyata dan gaib.

(rm)

Editor : Priska Watung
#Kedung Pengilon #Arwah Gentayangan #Mitos Jawa #Sesaji Mistis #Tumbal Bendungan