Banyak orang merasa yakin kalau mereka bisa berkata “tidak” saat diminta melakukan sesuatu yang salah.
Namun, kenyataannya, sebagian besar justru gagal ketika benar-benar dihadapkan pada situasi tersebut.
Menurut laporan Neuroscience News, penelitian terbaru mengungkap fenomena ini sebagai bentuk better-than-average effect.
Better-than-average effect adalah kondisi di mana seseorang meyakini kemampuannya di atas rata-rata, padahal faktanya tidak begitu.
Dalam studi tersebut, 90% partisipan percaya bahwa mereka mampu melawan perintah yang tidak etis.
Tapi, saat diuji dalam skenario yang melibatkan tekanan sosial, kebanyakan dari mereka menyerah.
Dilansir dari Neuroscience News, eksperimen dilakukan dengan menciptakan situasi simulasi moral yang terasa nyata bagi peserta.
Tekanan sosial yang dimaksud bisa berupa perintah dari atasan, dorongan kelompok, atau ancaman kehilangan pekerjaan.
Hasilnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar mempertahankan prinsip mereka.
Para peneliti menjelaskan bahwa faktor seperti rasa takut dikucilkan dan kehilangan keuntungan sering membuat orang menurunkan standar moral mereka.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep conformity atau kecenderungan mengikuti mayoritas.
Conformity sering terjadi tanpa disadari, bahkan pada orang yang menganggap dirinya “kuat pendirian”.
Menurut para ahli, rasa percaya diri berlebihan dalam moralitas justru bisa membuat seseorang lebih rentan jatuh.
Itu karena mereka tidak menyiapkan strategi menghadapi tekanan nyata.
Penelitian ini memberi pesan penting: keberanian moral bukan sekadar niat baik, tapi juga latihan mental dan kesadaran diri.
Cara melatihnya antara lain adalah dengan sering berdiskusi soal dilema etika dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
Selain itu, membiasakan diri untuk menolak permintaan yang salah dalam situasi kecil bisa jadi latihan yang efektif.
Pakar psikologi menyarankan agar orang tidak hanya percaya pada insting, tapi juga membangun lingkungan yang mendukung integritas.
Dengan begitu, saat tekanan datang, kita punya “tameng” yang lebih kuat untuk bertahan.
Baca Juga: Zodiak Bukan Sekadar Bintang: Studi Sebut Keyakinan Horoskop Bantu Kamu Lebih Optimis & Sukses!
Karena pada akhirnya, menjaga moralitas bukan cuma soal siapa kita di depan orang lain, tapi juga siapa kita ketika tidak ada yang melihat.
(at)
Editor : Priska Watung