Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Rumah Bukan Cuma Tempat Tinggal—Desain Emosional Bisa Bikin Kamu Tenang Setiap Hari!

Priska Watung • Jumat, 15 Agustus 2025 | 10:00 WIB

Photo
Photo

GORONTALOPOST - Rumah bukan cuma tempat berteduh dari panas dan hujan.
Sekarang, rumah juga bisa jadi “charger” emosi dan mental kita lewat desain yang tepat.

Tren ini dikenal dengan istilah emotional architecture.
Bukan sekadar gaya arsitektur, tapi pendekatan yang fokus pada perasaan penghuninya.

Prinsipnya sederhana: rumah harus membuat penghuninya merasa lebih tenang, nyaman, dan bahagia setiap hari.
Bukan malah menambah stres setelah lelah bekerja.

Salah satu cara yang digunakan adalah penerapan pencahayaan sesuai ritme biologis atau circadian lighting.
Lampu ini bisa meniru cahaya matahari alami sepanjang hari.

Pagi hari lampu akan lebih terang dan hangat, membantu kita bangun dengan semangat.
Malamnya, cahaya menjadi redup dan lembut, memberi sinyal pada tubuh untuk beristirahat.

Selain cahaya, unsur alam juga dibawa masuk lewat living walls atau dinding hidup.
Tanaman di dalam rumah bisa menurunkan stres dan membuat udara lebih segar.

Ada juga sudut khusus untuk meditasi atau mindfulness corner.
Biasanya ditempatkan di area sunyi dengan pencahayaan alami.

Material alami seperti kayu, batu, atau kain katun menjadi pilihan utama.
Alasannya, bahan ini memberi kesan hangat dan akrab.

Aroma juga jadi bagian penting dalam desain emosional.
Aroma lavender, misalnya, terbukti membantu tidur lebih nyenyak.

Begitu juga dengan tata suara atau soundscaping.
Suara gemericik air atau kicau burung bisa memberi efek menenangkan.

Menurut para desainer, semua elemen ini bekerja sama untuk menciptakan suasana hati yang positif.
Rumah jadi tempat yang membantu memulihkan energi mental.

Menariknya, tren ini tidak hanya berlaku untuk rumah mewah.
Banyak apartemen kecil sudah mulai mengadopsinya.

Beberapa developer bahkan menjadikan desain emosional sebagai nilai jual utama.
Mereka menyebutnya sebagai “wellness living”.

Bukan cuma untuk orang dewasa, konsep ini juga cocok untuk anak-anak.
Ruang belajar dengan pencahayaan alami bisa meningkatkan konsentrasi.

Efeknya bukan hanya terasa di rumah.
Ketenangan yang kita rasakan bisa terbawa saat beraktivitas di luar.

Para psikolog menyebutkan bahwa lingkungan tempat tinggal sangat memengaruhi kesehatan mental.
Jika rumah mendukung, risiko stres dan kecemasan bisa berkurang.

Kabar baiknya, menerapkan desain emosional tidak selalu mahal.
Kita bisa mulai dari hal sederhana seperti menambah tanaman dan mengganti lampu.

Jadi, rumah bukan lagi sekadar bangunan fisik.
Dengan desain yang tepat, rumah bisa jadi “terapis” terbaik setiap hari.

(rm)

Editor : Priska Watung
#KesehatanMental #EmotionalArchitecture #kesehatan masyarakat #Lifestyle #DesainRumah