Penelitian obat-obatan biasanya butuh waktu bertahun-tahun dan sering melibatkan uji coba pada hewan. Tapi sekarang, kecerdasan buatan atau AI mulai mengubah cara itu.
Menurut Reuters, perusahaan bioteknologi seperti Recursion, Schrodinger, hingga Certara mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat proses penemuan obat. Teknologi ini membantu memprediksi reaksi senyawa tanpa harus menguji langsung pada hewan.
Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat pun melihat peluang besar dari teknologi ini. Mereka mendorong metode baru ini bisa menjadi standar dalam tiga sampai lima tahun ke depan.
AI bekerja dengan cara menganalisis jutaan data biologis dan molekul. Dari situ, sistem bisa memperkirakan mana senyawa yang paling berpotensi menjadi obat baru.
Dilansir Reuters, Recursion bahkan berhasil membawa obat kanker masuk uji klinis hanya dalam 18 bulan. Padahal biasanya, butuh sekitar 42 bulan menurut data rata-rata industri farmasi.
Efisiensi waktu ini bukan hanya menguntungkan perusahaan, tapi juga pasien. Artinya, pasien bisa lebih cepat mendapatkan obat yang dibutuhkan.
Selain mempercepat riset, penggunaan AI juga mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan. Isu ini sering jadi perdebatan etis di dunia medis.
Teknologi ini dikenal dengan istilah in silico modeling, yaitu metode simulasi komputer untuk menggantikan percobaan di laboratorium.
Dengan metode ini, risiko biaya yang membengkak juga bisa ditekan. Menurut laporan Reuters, biaya riset obat bisa mencapai miliaran dolar. AI berpotensi memangkas angka tersebut secara signifikan.
FDA mendukung penuh perkembangan ini. Mereka melihat AI bukan hanya alat bantu, tapi bisa menjadi pondasi baru dalam dunia penelitian farmasi.
Namun, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana memastikan hasil simulasi AI benar-benar akurat ketika diuji di dunia nyata.
Meski begitu, tren ini terus berkembang. Perusahaan bioteknologi kini berlomba-lomba mengembangkan model AI paling canggih untuk kebutuhan medis.
Dukungan dari raksasa teknologi juga tidak kalah besar. Beberapa perusahaan seperti Nvidia turut terlibat dengan menyediakan komputasi super cepat untuk kebutuhan riset ini.
Di sisi lain, pakar kesehatan menilai penggunaan AI juga perlu diawasi ketat. Jangan sampai teknologi ini dipakai sembarangan tanpa regulasi yang jelas.
FDA sendiri sedang merancang panduan resmi terkait pemanfaatan AI dalam riset obat. Hal ini untuk menjaga kualitas dan keamanan sebelum obat benar-benar dipasarkan.
Bagi pasien, perkembangan ini membawa harapan baru. Terutama mereka yang mengidap penyakit langka atau kronis yang selama ini sulit mendapat pengobatan.
Masyarakat luas juga bisa merasakan dampak positifnya. Dengan riset yang lebih efisien, harga obat di masa depan bisa lebih terjangkau.
Beberapa pihak menyebut perkembangan ini sebagai revolusi bioteknologi. Dunia medis sedang berada di titik perubahan besar.
AI tidak lagi hanya dipakai untuk membuat gambar atau chatbot. Kini, teknologi ini benar-benar bisa menyelamatkan nyawa manusia.
Baca Juga: Fitur Tersembunyi Pixel 10 Pro Terbongkar: 12-bit Video Lebih Gila dari yang Dikira
Dengan dukungan pemerintah, perusahaan, dan teknologi, era baru dalam penemuan obat sudah di depan mata. Dunia sedang menunggu bagaimana hasil besar ini akan mengubah sistem kesehatan global.
(at)
Editor : Priska Watung