GORONTALO POST - Telinga adalah salah satu indra paling penting untuk berkomunikasi dan berinteraksi.
Sayangnya, banyak orang tidak sadar bahwa kebiasaan kecil bisa memengaruhi kemampuan mendengar.
Salah satunya adalah mendengarkan musik dengan volume keras.
Ketika suara terlalu tinggi, getaran yang masuk ke telinga bisa merusak sel rambut halus di dalam koklea.
Sel rambut ini berfungsi menangkap gelombang suara, dan jika rusak, tidak bisa tumbuh kembali.
Dilansir dari berbagai penelitian kesehatan, suara di atas 85 desibel dapat menyebabkan gangguan pendengaran bila didengar terus-menerus.
Artinya, mendengarkan musik dengan volume tinggi lewat earphone lebih dari satu jam per hari sudah termasuk berisiko.
Selain itu, kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud juga dapat memperburuk kondisi telinga.
Baca Juga: Arti Telinga Kiri Berdenging di Jam 3 Pagi, Pertanda Baik atau Buruk?
Bukannya membersihkan kotoran, justru bisa mendorong kotoran lebih dalam hingga menyumbat saluran telinga.
Bahkan, jika terlalu keras, cotton bud bisa melukai gendang telinga dan menyebabkan infeksi.
Kebiasaan mengabaikan infeksi telinga ringan juga tak kalah berbahaya.
Rasa gatal atau nyeri kecil yang dibiarkan bisa berkembang menjadi peradangan serius.
Selain itu, sering menggunakan earphone saat tidur juga tidak disarankan.
Kebiasaan ini bisa membuat telinga tidak mendapat udara cukup dan menimbulkan penumpukan kotoran.
Tak hanya itu, paparan kebisingan dari lingkungan seperti lalu lintas, konser, atau alat berat juga bisa memengaruhi kesehatan pendengaran.
Menariknya, pola makan juga punya peran penting.
Asupan makanan tinggi gula dan lemak jenuh dapat mengganggu aliran darah ke telinga bagian dalam.
Sementara makanan kaya vitamin B12, magnesium, dan kalium justru bisa membantu menjaga fungsi saraf pendengaran.
Kesimpulannya, gangguan pendengaran bukan hanya disebabkan oleh usia, tapi juga dari kebiasaan kecil yang sering diabaikan.
Mulai sekarang, jaga volume suara, hindari cotton bud, dan beri waktu istirahat bagi telingamu.
Karena sekali rusak, pendengaran tidak bisa kembali seperti semula.
(ed)
Editor : Priska Watung