GORONTALOPOST -Mulai tahun depan, para calon pembeli mobil listrik dan hybrid harus bersiap-siap. Pemerintah diperkirakan tidak lagi melanjutkan sejumlah insentif fiskal dan nonfiskal yang selama ini membuat harga kendaraan elektrifikasi lebih terjangkau.
Tanpa dukungan tersebut, harga mobil listrik maupun hybrid diprediksi akan merangkak naik, bahkan bisa menyentuh selisih belasan hingga puluhan juta rupiah dari harga saat ini.
Insentif Dihentikan, Industri Otomotif Berpotensi Terguncang
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah gencar mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai stimulus, mulai dari pemotongan PPn, potongan PPN, bea masuk, hingga insentif konversi. Upaya ini terbukti meningkatkan minat masyarakat, serta menarik investasi pabrik kendaraan listrik dan baterai.
Namun, mulai tahun depan, sejumlah insentif disebut tidak lagi diperpanjang. Pelaku industri otomotif menilai kebijakan ini bisa berdampak signifikan. Tanpa bantuan insentif, harga unit mobil listrik akan kembali ke harga normal yang jauh lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional.
Bagi produsen, penghentian insentif juga berpotensi memperlambat pertumbuhan pasar kendaraan ramah lingkungan. Sementara bagi konsumen, keputusan ini bisa membuat sebagian calon pembeli menunda atau bahkan batal beralih ke kendaraan elektrifikasi.
Harga Bisa Melonjak Belasan Hingga Puluhan Juta Rupiah
Selama ini, insentif pemerintah berhasil menurunkan harga mobil listrik secara signifikan. Misalnya potongan PPN yang membuat harga on-the-road lebih murah hingga 10–20 persen, tergantung model dan pabrikan.
Jika insentif tersebut dihentikan, kenaikan harga hampir dipastikan terjadi. Mobil listrik rendah dan menengah yang saat ini berkisar di angka Rp 250–600 juta berpotensi naik belasan juta rupiah. Sementara mobil listrik premium serta model hybrid bisa mengalami lonjakan lebih besar, mengingat struktur pajaknya kembali dikenakan penuh.
Kondisi ini dikhawatirkan mengurangi daya beli masyarakat, terutama mereka yang sudah menabung untuk membeli mobil elektrifikasi di tahun depan.
Dampak ke Pasar: Kompetisi Bisa Melemah
Penghentian insentif diyakini akan memengaruhi dinamika pasar otomotif nasional. Selama beberapa tahun terakhir, masuknya banyak model mobil listrik dan hybrid baru menciptakan kompetisi sengit antarbrand. Konsumen menikmati banyak pilihan dengan harga yang semakin kompetitif.
Namun, tanpa insentif, harga yang naik dapat membuat pasar kembali stagnan. Pabrikan bisa saja menunda peluncuran model baru, sementara distribusi penjualan bisa melemah. Kondisi ini bertolak belakang dengan target pemerintah untuk meningkatkan porsi kendaraan listrik hingga jutaan unit pada 2030.
Konsumen Disarankan Membeli Tahun Ini
Dengan potensi kenaikan harga yang cukup besar, sejumlah analis menyarankan masyarakat yang memang sudah berniat membeli mobil listrik untuk melakukannya sebelum penghujung tahun ini. Selama insentif masih berlaku, harga jauh lebih bersahabat.
Model kendaraan listrik yang saat ini sedang diminati seperti city car EV, SUV EV, dan hybrid hemat bahan bakar diprediksi akan menjadi rebutan di akhir tahun karena momen “last minute purchase” sebelum insentif dihentikan.
Tanpa insentif, pemerintah perlu menyusun strategi baru untuk menjaga momentum elektrifikasi. Pengembangan infrastruktur charging, kepastian investasi baterai, serta regulasi pajak jangka panjang menjadi kunci agar pasar EV tidak kembali melambat.
Sementara itu, konsumen harus lebih cermat membaca kondisi pasar dan menimbang kapan waktu terbaik untuk membeli. Yang jelas, jika insentif benar-benar tidak ada lagi tahun depan, bersiaplah: harga mobil listrik dan hybrid hampir pasti akan naik.(jpg)
Editor : Nur Fadilah