Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Di Balik Tren Puasa Intermiten, Wanita Perlu Waspadai Dampaknya

Nur Fadilah • Kamis, 5 Februari 2026 | 10:41 WIB


Manajemen puasa intermiten untuk wanita (Pexels)
Manajemen puasa intermiten untuk wanita (Pexels)

GORONTALOPOST -Puasa intermiten atau intermittent fasting (IF) semakin digandrungi, terutama di kalangan wanita yang ingin menjaga berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan.

Pola makan ini tidak berfokus pada apa yang dimakan, melainkan kapan waktu makan dilakukan. Metode yang paling populer antara lain 16:8 (puasa 16 jam, makan 8 jam) dan 5:2 (makan normal lima hari, pembatasan kalori dua hari).

Di balik popularitasnya, puasa intermiten kerap disebut-sebut membawa banyak manfaat. Namun, bagi wanita, metode ini memiliki sisi plus dan minus yang penting untuk dipahami sebelum menjadikannya gaya hidup.

Salah satu daya tarik utama puasa intermiten adalah kemampuannya membantu mengontrol berat badan. Dengan membatasi waktu makan, asupan kalori cenderung berkurang secara alami tanpa perlu diet ketat. Selain itu, IF juga disebut dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga kadar gula darah lebih stabil.

Tak hanya soal berat badan, beberapa wanita merasakan manfaat lain seperti peningkatan fokus, energi yang lebih stabil, serta pencernaan yang terasa lebih ringan. Puasa intermiten juga diyakini membantu proses autophagy, yaitu mekanisme alami tubuh dalam membersihkan sel-sel yang rusak, yang berperan dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Meski terlihat menjanjikan, puasa intermiten tidak selalu cocok untuk semua wanita. Tubuh wanita sangat sensitif terhadap perubahan hormon. Pada sebagian orang, puasa yang terlalu panjang dapat memicu ketidakseimbangan hormon, terutama hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron.

Beberapa wanita melaporkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur, muncul rasa lelah berlebihan, mudah pusing, hingga suasana hati yang lebih mudah berubah. Jika asupan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik saat waktu makan, risiko kekurangan zat besi, kalsium, dan vitamin tertentu juga bisa meningkat.

Puasa intermiten juga kurang dianjurkan bagi wanita hamil, menyusui, memiliki riwayat gangguan makan, atau mengalami masalah kesehatan tertentu tanpa pengawasan tenaga medis.

Agar manfaat puasa intermiten bisa dirasakan tanpa efek samping, kuncinya ada pada penyesuaian dengan kondisi tubuh. Wanita disarankan memulai dengan durasi puasa yang lebih pendek, misalnya 12:12 atau 14:10, sebelum mencoba pola yang lebih panjang.

Selain itu, kualitas makanan saat waktu makan harus tetap menjadi prioritas. Asupan protein, lemak sehat, serat, serta mikronutrien penting perlu diperhatikan agar tubuh tetap mendapatkan energi dan nutrisi yang cukup.

Puasa intermiten memang menawarkan banyak manfaat dan terbukti membantu sebagian wanita mencapai gaya hidup yang lebih sehat. Namun, tren ini bukan solusi instan yang cocok untuk semua orang. Mendengarkan sinyal tubuh dan tidak memaksakan diri menjadi langkah paling bijak.

Bagi wanita, kesehatan hormonal dan keseimbangan nutrisi jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti pola makan yang sedang populer. Jika dilakukan dengan tepat dan penuh kesadaran, puasa intermiten bisa menjadi alat bantu kesehatan, bukan sumber masalah baru.(jpg)

Editor : Nur Fadilah
#puasa intermiten #wanita