GORONTALOPOST -Bagi sebagian orang, melewatkan waktu makan sering dianggap sepele. Ada yang sengaja melakukannya demi diet, ada pula yang terpaksa karena kesibukan.
Namun bagi penderita diabetes, kebiasaan ini bukan sekadar urusan perut kosong. Melewatkan makan justru bisa berdampak buruk pada kestabilan gula darah dan memicu berbagai masalah kesehatan.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh penderita diabetes saat makan dilewatkan?
Gula Darah Bisa Turun Drastis
Penderita diabetes, terutama yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah, berisiko mengalami hipoglikemia saat melewatkan makan. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah turun terlalu rendah karena tubuh tidak mendapat asupan energi, sementara obat tetap bekerja menurunkan gula darah.
Gejalanya bisa berupa pusing, gemetar, keringat dingin, lemas, hingga sulit berkonsentrasi. Jika tidak segera ditangani, hipoglikemia dapat berujung pada kehilangan kesadaran.
Tubuh “Balas Dendam” dengan Lonjakan Gula
Ironisnya, melewatkan makan juga bisa memicu lonjakan gula darah pada waktu berikutnya. Saat tubuh terlalu lama tidak mendapat asupan, hormon stres seperti kortisol dan glukagon akan dilepaskan untuk menaikkan gula darah. Akibatnya, saat akhirnya makan, kadar gula bisa melonjak lebih tinggi dari normal.
Kondisi ini dikenal sebagai efek rebound, yang dalam jangka panjang dapat menyulitkan pengendalian diabetes.
Pola Makan Tidak Teratur Mengganggu Metabolisme
Diabetes sangat erat kaitannya dengan keteraturan pola makan. Melewatkan makan membuat jadwal makan menjadi kacau, sehingga tubuh kesulitan mengatur produksi dan penggunaan insulin. Metabolisme pun menjadi tidak stabil, yang berpotensi memperparah resistensi insulin.
Bagi penderita diabetes tipe 2, kondisi ini bisa mempercepat komplikasi jika terjadi terus-menerus.
Risiko Makan Berlebihan Setelahnya
Rasa lapar yang menumpuk akibat melewatkan makan sering kali berujung pada makan berlebihan di waktu berikutnya. Porsi yang tidak terkontrol, apalagi jika didominasi karbohidrat sederhana, dapat menyebabkan lonjakan gula darah secara tiba-tiba.
Hal ini tentu bertolak belakang dengan prinsip utama pengelolaan diabetes, yakni menjaga gula darah tetap stabil.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Bagi penderita diabetes, kunci utama bukan sekadar mengurangi porsi, tetapi menjaga keteraturan makan. Makan dalam porsi seimbang dengan jadwal teratur membantu tubuh mengontrol gula darah dengan lebih baik.
Jika ingin menjalani pola diet tertentu, seperti puasa intermiten, sebaiknya dilakukan dengan pengawasan tenaga medis agar tetap aman dan sesuai kondisi tubuh.
Melewatkan makan bukan solusi aman bagi penderita diabetes. Alih-alih membantu, kebiasaan ini justru dapat memicu gula darah tidak stabil, meningkatkan risiko hipoglikemia, serta memperburuk pengendalian penyakit. Pola makan teratur, seimbang, dan sesuai anjuran medis tetap menjadi fondasi utama dalam mengelola diabetes dengan baik.(jpg)
Editor : Nur Fadilah