GORONTALOPOST -Banyak perokok menganggap rasa perih di lambung, perut tidak nyaman, atau asam lambung yang sering naik sebagai gangguan biasa.
Padahal, menurut para ahli gastroenterologi, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal terganggunya sistem pencernaan akibat paparan tembakau.
Konsultan Gastroenterologi Medis Rumah Sakit KMC Mangalore, India, Dr. Anurag Shetty, menjelaskan bahwa merokok tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga memberikan efek serius pada lambung dan kerongkongan.
Menurutnya, kebiasaan merokok dapat meningkatkan produksi asam lambung sekaligus menurunkan pH lambung. Di saat yang sama, rokok juga mengurangi produksi lendir pelindung yang berfungsi menjaga dinding lambung dari iritasi serta menurunkan aliran darah ke organ tersebut.
“Merokok meningkatkan asam lambung dan menurunkan pH lambung. Selain itu, merokok mengurangi produksi lendir di lambung dan mengurangi aliran darah ke lambung,” ujar Shetty seperti dikutip dari Times of India.
Kondisi tersebut membuat lapisan pelindung lambung menjadi lebih rentan rusak. Akibatnya, risiko terbentuknya tukak atau luka pada lambung dan usus dua belas jari meningkat.
Tidak hanya itu, merokok juga dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori), yang dikenal sebagai salah satu penyebab utama gangguan lambung.
Secara alami, lambung menghasilkan asam untuk membantu proses pencernaan makanan. Namun, tubuh juga membentuk lapisan lendir pelindung agar asam tersebut tidak merusak jaringan lambung. Ketika seseorang merokok, keseimbangan ini terganggu. Produksi asam meningkat, sementara pertahanan alami lambung justru melemah.
Dampaknya tidak berhenti di lambung. Paparan asam yang terus-menerus ke kerongkongan dapat memicu penyakit refluks gastroesofageal atau GERD, yang ditandai dengan sensasi panas di dada, rasa pahit di mulut, hingga gangguan menelan.
Selain memengaruhi lambung dan kerongkongan, merokok juga terbukti mengubah komposisi mikrobioma usus, yakni kumpulan bakteri baik yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Perubahan tersebut dapat memicu pertumbuhan mikroorganisme berbahaya yang berdampak pada munculnya keluhan seperti perut kembung, banyak gas, hingga perubahan pola buang air besar.
“Merokok mengubah mikrobiota di usus dengan peningkatan organisme berbahaya. Hal ini diketahui meningkatkan risiko penyakit radang usus seperti IBD,” kata Shetty.
Sementara itu, Gastroenterologi Medis Rumah Sakit Manipal Goa, Dr. Rohan Badave, mengingatkan bahwa kerusakan pada sistem pencernaan akibat rokok sering kali berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru menyadari masalah tersebut ketika kondisinya sudah cukup serius.
Padahal, peradangan kronis pada saluran pencernaan dapat menjadi faktor risiko berbagai jenis kanker. Tembakau diketahui berperan besar dalam meningkatkan risiko kanker lambung, kanker kolorektal, kanker pankreas, kanker hati, hingga kanker kerongkongan.
Karena itu, para ahli menegaskan bahwa bahaya rokok tidak hanya terbatas pada mulut dan paru-paru. Dampaknya dapat menjalar ke seluruh sistem pencernaan, mulai dari lambung, usus, hati, hingga pankreas.
Dengan kata lain, setiap batang rokok yang dihisap bukan hanya mengancam kesehatan pernapasan, tetapi juga perlahan merusak organ-organ penting yang berperan dalam mencerna dan menyerap nutrisi bagi tubuh.(antara)
Editor : Nur Fadilah