GORONTALOPOST -Banyak orang masih menganggap angin duduk sebagai keluhan ringan yang mirip masuk angin biasa. Padahal, kondisi yang dalam dunia medis dikenal sebagai angina pektoris ini dapat menjadi sinyal adanya gangguan serius pada jantung yang tidak boleh diabaikan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Febtusia Puspitasari, menjelaskan bahwa angina pektoris terjadi ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah dan oksigen yang cukup. Kondisi tersebut membuat jantung bekerja dalam keadaan kekurangan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya secara normal.
Menurutnya, jantung sangat bergantung pada pembuluh darah koroner yang bertugas mengalirkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan otot jantung. Ketika aliran darah terganggu akibat penyempitan atau sumbatan pembuluh darah, sebagian otot jantung akan mengalami kekurangan oksigen dan memunculkan rasa nyeri.
“Ketika pasokan oksigen berkurang, otot jantung seperti memberikan sinyal bahaya berupa rasa nyeri di dada,” ujar Febtusia dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta.
Nyeri Dada Seperti Tertekan Beban Berat
Salah satu gejala paling umum dari angina pektoris adalah nyeri dada yang terasa seperti ditekan atau ditindih beban berat. Sensasi ini sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman yang dapat menjalar ke bahu, lengan, leher, hingga rahang.
Istilah "angina" sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti mencekik atau menyempit, sementara "pektoris" berarti dada. Kombinasi kedua kata tersebut menggambarkan kondisi nyeri dan sesak yang dirasakan penderita.
Masyarakat Indonesia lebih mengenal kondisi ini dengan sebutan "angin duduk". Julukan tersebut diduga muncul karena penderita biasanya berusaha mencari posisi duduk untuk mengurangi rasa sesak dan memperbaiki pernapasan ketika serangan terjadi.
Saat mengalami angina, seseorang umumnya merasa sulit berbaring dengan nyaman dan lebih memilih duduk sambil mengatur napas agar rasa tidak nyaman berkurang.
Kolesterol Tinggi dan Hipertensi Jadi Pemicu
Febtusia menjelaskan bahwa tingginya kadar kolesterol jahat atau LDL serta hipertensi menjadi faktor risiko utama yang dapat memicu terjadinya angina pektoris.
Pembuluh darah yang sehat memiliki lapisan dinding yang tersusun rapi. Namun, tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak lapisan tersebut sehingga kolesterol lebih mudah menempel dan membentuk timbunan lemak.
Ketika timbunan lemak semakin banyak, aliran darah di dalam pembuluh menjadi menyempit. Akibatnya, suplai darah menuju jantung berkurang dan risiko munculnya nyeri dada semakin meningkat.
Menurutnya, tekanan darah ideal yang masih dapat dikompensasi tubuh dengan baik berada di kisaran 130/80 mmHg. Jika melebihi angka tersebut dalam jangka panjang, risiko kerusakan pembuluh darah akan semakin besar.
Diabetes dan Rokok Perparah Risiko
Selain kolesterol tinggi dan hipertensi, diabetes juga menjadi faktor yang dapat mempercepat kerusakan arteri. Kadar gula darah yang tidak terkontrol berpotensi merusak lapisan pembuluh darah dan mempercepat proses penyumbatan.
Tak kalah berbahaya, kebiasaan merokok juga berkontribusi besar terhadap menurunnya kesehatan pembuluh darah. Zat beracun dalam rokok seperti karbon monoksida dan nikotin dapat mengganggu kemampuan sel darah merah dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Akibatnya, pasokan oksigen yang seharusnya diterima jaringan tubuh, termasuk jantung, menjadi berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menganggap remeh gejala nyeri dada yang muncul berulang, terutama jika disertai sesak napas atau rasa tertekan di dada. Pemeriksaan medis sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius, termasuk serangan jantung.(antara)
Editor : Nur Fadilah