Gorontalopost, GORONTALO — Upaya membangun kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus dilakukan di Kota Gorontalo.
Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Provinsi Gorontalo
untuk membekali anak-anak pesisir dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang
Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM)
dengan menghadirkan Program HUYULA di Rumah Pintar, Kelurahan Tanjung Kramat, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo.
Baca Juga: Longsor di Tambang Emas Hulawa Berujung Penahanan, Polda Gorontalo Tetapkan RP Tersangka PETI
Program yang dilaksanakan pada Jumat (4/9/2026) itu mengusung tema “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat
melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai”.
Program tersebut dirancang agar edukasi kebencanaan dapat dikenalkan kepada anak-anak dengan metode yang menyenangkan sekaligus mudah dipahami.
Tanjung Kramat dipilih karena wilayah tersebut memiliki potensi ancaman sejumlah
bencana, seperti gempa bumi, tsunami dan tanah longsor.
Kondisi itu membuat anak-anak pesisir dinilai perlu memiliki pemahaman dasar mengenai langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Tim PKM-PM HUYULA melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Program Studi Ilmu Lingkungan UNG.
Tim tersebut dibimbing dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, S.Ked., M.Biomed., dengan Nurul Fauziah Sabir sebagai ketua.
Baca Juga: Tujuh Pendaftar Berebut Kursi Direktur RSCG Boalemo, Hanya Empat Lolos Verifikasi
Anggota tim terdiri dari Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, Rayhan Ramadhan Ali dan Amanda Nuraini P. Zakaria dari Program Studi Ilmu Lingkungan.
Konsep HUYULA mengangkat kearifan lokal Gorontalo yang identik dengan semangat gotong royong, kebersamaan dan kepedulian.
Nilai tersebut kemudian diterapkan dalam proses pembelajaran kebencanaan melalui permainan, praktik serta simulasi.
Anak-anak Rumah Pintar diajak mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari menjaga
kebersihan kawasan pesisir, mengenali titik rawan dan ruang aman, hingga memetakan jalur evakuasi.
Mereka juga dibekali pengetahuan melalui pembentukan Pojok Siaga serta
diajak membuat tas emergensi.
Tak berhenti di situ, peserta mengikuti permainan edukasi mitigasi gempa dan tsunami serta membuat maket kawasan rawan longsor dengan memanfaatkan bahan-bahan daur ulang.
Metode tersebut membuat materi kebencanaan disampaikan secara lebih visual dan
interaktif.
Pembelajaran kemudian diperluas melalui simulasi digital menggunakan Minecraft. Anak-
anak juga mendapatkan latihan pertolongan sederhana, komunikasi darurat, serta praktik
evakuasi dan penyelamatan korban.
Salah satu tahapan penting Program HUYULA dilaksanakan melalui Simulasi Siaga
bersama BPBD Provinsi Gorontalo dan BPBD Kota Gorontalo pada 20 Agustus 2026.
Dalam simulasi tersebut, anak-anak Rumah Pintar mempraktikkan pengetahuan dan
keterampilan yang telah diperoleh selama mengikuti rangkaian program.
Ketua Tim PKM-PM HUYULA, Nurul Fauziah Sabir, mengatakan program tersebut
sengaja dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
Menurutnya, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya membuat anak mengetahui teori, tetapi juga harus membangun keberanian dan kemampuan untuk bertindak.
“Melalui HUYULA, kami ingin anak-anak pesisir bukan hanya memahami langkah yang perlu dilakukan saat bencana terjadi, tetapi juga mempunyai keterampilan dan keberanian untuk mengambil tindakan yang benar,” kata Nurul.
Selain membangun kesiapsiagaan, Program HUYULA juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
Anak-anak diajak memanfaatkan sampah plastik yang ditemukan di kawasan pantai sebagai bahan untuk membuat berbagai media pembelajaran.
Untuk memastikan program terus memberikan dampak setelah kegiatan berakhir, tim
HUYULA membentuk Duta Siaga Bencana dari kalangan anak-anak Rumah Pintar.
Mereka diharapkan mampu menjadi agen edukasi sebaya dengan membagikan
pengetahuan kebencanaan kepada anak-anak lainnya.
Hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan
pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Program HUYULA juga menghasilkan sejumlah media edukasi, di antaranya tas emergensi, board game bencana dan maket tiga dimensi.
Kolaborasi mahasiswa UNG bersama BPBD Kota dan Provinsi Gorontalo tersebut
diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya sadar bencana di kalangan anak-anak pesisir, sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.(Ris).