Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Kebudayaan dan Sejarah Banua Tada di Sulawesi Tenggara

Priska Watung • Rabu, 8 Januari 2025 | 21:58 WIB
ilustrasi rumah adat banua tada
ilustrasi rumah adat banua tada

GORONTALOPOST - Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, salah satunya melalui rumah adat tradisional. Salah satu rumah adat yang paling dikenal di wilayah ini adalah Banua Tada, rumah tradisional yang berasal dari Suku Wolio atau masyarakat Buton di Pulau Buton. Rumah ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga simbol status sosial, budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Struktur arsitektur Banua Tada yang unik dan filosofis mencerminkan nilai budaya yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Buton.

Secara etimologis, kata "banua" dalam bahasa lokal berarti "rumah," sedangkan "tada" berarti "siku," yang merujuk pada struktur rangka bangunan rumah yang berbentuk siku-siku. Rumah ini dibangun dengan konstruksi panggung dan menggunakan material alami seperti kayu sebagai bahan utama. Tiang-tiang penyangga yang kokoh mencerminkan kekuatan dan ketahanan, sementara detail ukiran di berbagai bagian rumah menggambarkan seni serta estetika khas masyarakat Buton. Rumah ini dirancang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga untuk menyesuaikan dengan kondisi lingkungan tropis serta melindungi penghuninya dari ancaman bencana alam.

Jenis-Jenis Banua Tada

  1. Kamali atau Malige
    Rumah ini berfungsi sebagai istana yang menjadi tempat tinggal raja beserta keluarganya. Kamali memiliki ukuran yang lebih besar dibanding jenis Banua Tada lainnya dan dihiasi dengan ukiran serta ornamen yang sarat dengan simbol kekuasaan dan kemuliaan. Bentuk dan desain rumah ini mencerminkan kewibawaan dan status tinggi dari penghuninya.

  2. Banua Tada Tare Pata Pale
    Jenis rumah ini diperuntukkan bagi para pejabat istana serta pegawai yang memiliki kedudukan penting dalam struktur pemerintahan kerajaan Buton. Rumah ini memiliki empat tiang penyangga utama dan dirancang dengan tingkat kenyamanan yang baik untuk penghuninya.

  3. Banua Tada Tare Talu Pale
    Rumah ini merupakan tempat tinggal masyarakat biasa. Meskipun ukurannya lebih kecil dan desainnya lebih sederhana dibanding Kamali atau Banua Tada Tare Pata Pale, rumah ini tetap memiliki kekokohan dan estetika khas arsitektur Buton.

Filosofi dan Nilai Budaya Banua Tada

Setiap bagian dari Banua Tada memiliki filosofi yang mendalam. Tiang penyangga, atap yang bertingkat, serta ornamen ukiran pada dinding mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Struktur rumah yang bertingkat juga melambangkan hierarki sosial dalam kehidupan masyarakat Buton. Selain itu, desain rumah yang terbuka di bagian depan mencerminkan sifat ramah tamah dan keterbukaan masyarakat Buton terhadap tamu.

Selain sebagai tempat tinggal, Banua Tada juga sering digunakan untuk berbagai kegiatan adat dan upacara tradisional. Rumah ini menjadi pusat aktivitas sosial dan simbol identitas budaya yang mempererat hubungan antaranggota masyarakat.

Pelestarian Banua Tada

Seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi, keberadaan Banua Tada semakin tergerus oleh pembangunan rumah modern. Oleh karena itu, upaya pelestarian rumah adat ini menjadi sangat penting. Pemerintah daerah, bersama dengan masyarakat setempat, berupaya menjaga eksistensi rumah tradisional ini melalui program konservasi, edukasi budaya, serta promosi pariwisata.

Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, Banua Tada tidak hanya memiliki nilai historis tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal dan identitas masyarakat Buton. Dengan memahami dan melestarikan rumah adat ini, generasi mendatang dapat terus menghargai serta menjaga kekayaan budaya Sulawesi Tenggara yang tak ternilai harganya. (Artha)

Editor : Priska Watung
#rumah adat #Filosofis #sulawesi tenggara #Kehidupan #budaya #kekayaan