Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Kebahagiaan Aneh di Tengah Perang: Sebuah Penjelasan tentang Luka dan Harapan

Agus Limehu • Selasa, 24 Juni 2025 | 20:44 WIB

Oleh: Zulfikar Tahuru Politisi Partai Gerindra Gorontalo 

Beberapa hari lalu, saat Iran melancarkan serangan balistik ke wilayah Israel, linimasa media sosial tiba-tiba penuh dengan ekspresi puas, suka cita, bahkan sorak-sorai dari sebagian umat Islam. Ada yang menyebutnya kebangkitan harga diri. Ada yang menyebutnya karma. Tapi benarkah itu sekadar selebrasi atas kekerasan? Atau ada yang lebih dalam?

Zulfikar Tahuru
Zulfikar Tahuru

Sebagai bagian dari masyarakat yang menyaksikan penderitaan di Gaza dari waktu ke waktu, saya memahami bahwa rasa puas itu bukan semata-mata soal dukungan pada Iran, bukan pula karena senang melihat kehancuran Israel. Rasa puas itu, jika kita tarik lebih dalam, adalah ekspresi emosional dari luka kolektif yang terlalu lama dibiarkan terbuka.


Luka yang Terhubung Secara Psikologis

Banyak umat Islam mengalami apa yang disebut oleh Charles Figley sebagai vicarious trauma—trauma tidak langsung akibat menyaksikan penderitaan ekstrem orang lain, terutama melalui media. Dalam konteks ini, gambar-gambar anak-anak yang dibom, rumah sakit yang dihancurkan, dan warga sipil yang terjebak dalam kekerasan menjadi pengalaman emosional yang intens, walaupun tidak dialami secara langsung.

Teori identifikasi kelompok dalam psikologi sosial—seperti dijelaskan oleh Henri Tajfel dalam Social Identity Theory (1979)—menyebut bahwa individu merasa terhubung secara emosional dengan kelompok sosialnya. Ketika warga Palestina menderita, banyak umat Islam merasa bahwa itu adalah penderitaan kolektif mereka juga. Ini menciptakan respons emosional yang kuat ketika kelompok “kami” disakiti oleh kelompok “mereka”.

Ketika serangan terhadap Israel terjadi, rasa puas bukan muncul dari kebencian murni, melainkan dari perasaan bahwa kelompok “kami” akhirnya memiliki daya untuk melawan. Rasa puas itu lebih menyerupai kelegaan emosional atas hilangnya rasa tidak berdaya.


Kebutuhan Akan Dunia yang Adil

Dalam psikologi moral, ada satu teori yang menjelaskan ini: Just-World Hypothesis oleh Melvin Lerner (1980). Ia menyatakan bahwa manusia cenderung mempercayai bahwa dunia ini adil dan setiap orang akan mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Namun, ketika dunia menunjukkan sebaliknya—penindas tidak dihukum, korban terus-menerus menderita—maka muncul ketegangan kognitif yang besar. Serangan terhadap Israel, bagi sebagian orang, dirasakan sebagai momen ketika keseimbangan moral itu sedikit dipulihkan: bahwa yang jahat akhirnya merasakan akibatnya.

Tentu ini tidak serta-merta membuat kekerasan menjadi sesuatu yang dibenarkan. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa emosi publik seringkali lebih kompleks dari sekadar hitam dan putih.


Ketika Media Sosial Menjadi Cermin Emosi Kolektif

Dalam kerangka sosiologi media sosial, fenomena ini juga bisa dijelaskan melalui konsep echo chamber dan affective publics.

Menurut Zeynep Tufekci, seorang sosiolog digital, media sosial menciptakan ruang yang memperkuat emosi kolektif dan mempercepat penyebarannya. Dalam bukunya Twitter and Tear Gas (2017), ia menjelaskan bagaimana emosi seperti kemarahan atau kesedihan bisa menjadi “bahan bakar” yang menyatukan individu menjadi publik yang terhubung secara emosional.

Sementara itu, konsep echo chamber—yang dikembangkan oleh Cass Sunstein—menjelaskan bagaimana media sosial seringkali hanya menampilkan sudut pandang yang sama secara berulang. Ketika satu orang mengekspresikan rasa puas atas perlawanan terhadap Israel, dan mendapat banyak “like” atau komentar dukungan, hal itu menciptakan norma emosional dalam kelompok digital tersebut. Akhirnya, ekspresi puas menjadi hal yang “dibenarkan secara sosial”, bahkan jika tidak semua orang benar-benar memahami konteksnya.

 

Keadilan yang Lama Dicari

Rasa puas itu, bila dipahami secara lebih manusiawi, bukanlah pesta atas penderitaan pihak lain. Ia lebih menyerupai ventilasi emosional, cara manusia menyuarakan keinginan akan keadilan yang selama ini dibungkam. Dalam dunia di mana jalur diplomasi tampak tumpul, simbol perlawanan (betapapun tragisnya) menjadi kanal harapan terakhir.

Tugas kita hari ini bukan untuk menghakimi ekspresi itu sebagai benar atau salah, tapi untuk memahami akar emosinya. Bahwa masyarakat kita sedang merindukan keadilan yang nyata, dan akan terus bergantung pada simbol-simbol perlawanan jika keadilan itu tak kunjung datang melalui jalur damai.

Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan perang, bukan pembalasan, bukan kehancuran. Yang kita cari adalah keadilan, martabat, dan kemanusiaan yang utuh—untuk semua pihak

Editor : Agus Limehu