Gorontalopost, JAKARTA – Dunia akademik Indonesia kembali menjadi sorotan setelah laporan internasional.
Menempatkan Indonesia sebagai negara kedua terburuk dalam hal kejujuran ilmiah, tepat satu tingkat di atas Kazakhstan.
Baca Juga: Yayu Alamri Resmi Pimpin KKJI Bone Bolango, Siap Gelar Festival Budaya Jaton 2026
Data tersebut diperoleh dari riset dua akademisi asal Republik Ceko, Vit Machacek dan Martin Srholec, yang menganalisis ribuan publikasi jurnal ilmiah periode 2015–2017.
Sementara itu dikutif dari RMOL, Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyampaikan keprihatinannya atas temuan tersebut.
Ia menyebut laporan itu sebagai alarm keras bagi moralitas dan etika intelektual bangsa.
“Ini bukan sekadar statistik, ini cerminan betapa runtuhnya integritas akademik kita di mata dunia.
Dunia melihat, dan kita tak bisa menutupinya lagi,” ungkap Rocky dalam tayangan di kanal YouTube-nya pada Selasa, 1 Juli 2025.
Rocky menyebut praktik curang seperti manipulasi data riset, jual beli ijazah, skripsi "pesanan",
Hingga membayar untuk lolos publikasi jurnal internasional sebagai contoh nyata dari krisis kejujuran yang kini terbaca secara global.
Ia pun mengingatkan, Indonesia memiliki akar sejarah sebagai bangsa pemikir, bangsa debat, bangsa dialog.
Baca Juga: PPPK Kejaksaan RI 2025 Dibuka, 1.609 Lowongan Tenaga Kesehatan, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Namun kini, lanjut Rocky, semangat itu makin terpinggirkan.
“Ketika nalar kritis dianggap ancaman, dan argumen dilabeli sebagai perpecahan, itu tanda bahwa kita sedang mundur
jauh,” ujarnya dengan nada prihatin.
Mantan dosen filsafat Universitas Indonesia ini menyimpulkan, krisis kejujuran akademik.
Adalah gejala dari kerusakan budaya berpikir secara menyeluruh yang pada akhirnya berpotensi meruntuhkan integritas publik secara luas.
“Kejujuran ilmiah bukan pilihan, tapi fondasi. Tanpa itu, kita kehilangan makna dari apa yang disebut pendidikan,” tutup Rocky. (RML)
Editor : Azis Manansang