Gorontalopost, PAGUAT - Sebanyak 11 desa di dua kecamatan di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, diterjang banjir bandang akibat hujan deras yang mengguyur sejak Minggu siang (15/12/2024).
Banjir ini menyebabkan ribuan warga terdampak dan memaksa sebagian besar mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Baca Juga: Pj Gubernur Gorontalo Seriusi Pengembangan Transportasi dengan Menhub
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pohuwato, desa yang terdampak di Kecamatan Dengilo adalah Desa Popaya.
Sementara di Kecamatan Paguat, desa-desa yang terkena banjir meliputi Molamahu, Soginti, Buhu Jaya, dan Pentadu.
Desa Pentadu menjadi wilayah dengan dampak terparah, dengan total 471 Kepala Keluarga (KK) atau 1.722 jiwa terdampak langsung.
Secara keseluruhan, di Kecamatan Paguat terdapat 777 KK atau 2.842 jiwa yang terkena imbas banjir. Data dari Desa Popaya di Kecamatan Dengilo masih dalam proses pendataan oleh pihak berwenang.
Baca Juga: Polresta Gorontalo Kota Ungkap Kronologi Penikaman Berujung Maut
Banjir bandang ini diduga disebabkan oleh curah hujan tinggi di wilayah hulu Kecamatan Dengilo, yang diperburuk oleh adanya aktivitas tambang ilegal.
Kondisi lingkungan yang rusak di daerah tersebut mempercepat aliran air ke desa-desa di hilir, sehingga menyebabkan banjir meluas dengan cepat.
Sementara itu Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, TAGANA, serta pemerintah kecamatan dan desa telah dikerahkan untuk membantu evakuasi warga terdampak.
Beberapa warga telah mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara yang lain masih menunggu bantuan di lokasi pengungsian darurat.
Baca Juga: Terkuak Motif Pria di Isimu Raya Tewas Dibunuh, Pelaku Ditahan Polisi
Sebagai langkah tanggap darurat, dapur umum telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan pokok para pengungsi, seperti makanan siap saji, selimut, kasur lipat, dan makanan bayi.
Pemerintah Kabupaten Pohuwato terus memantau situasi dan mengupayakan langkah-langkah pemulihan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas terkait, mengingat cuaca yang masih tidak menentu.(Mg-08).
Editor : Azis Manansang