GORONTALOPOST - Kita sering dengar, “Jangan makan buru-buru, nanti sakit perut.” Tapi ternyata, dampaknya bukan cuma soal lambung, lho.
Penelitian terbaru menemukan bahwa kebiasaan makan terlalu cepat bisa berkaitan erat dengan kondisi kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.
Banyak orang makan cepat karena jadwal padat atau sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Tapi tanpa disadari, ini bisa bikin otak dan hati jadi lelah.
Saat kita makan dengan cepat, otak tidak punya cukup waktu untuk memproses rasa kenyang. Ini bisa menyebabkan makan berlebihan dan rasa bersalah setelahnya.
Perasaan bersalah ini ternyata bisa memicu stres dan membuat mood turun. Kalau terus-menerus terjadi, ini bisa jadi awal dari masalah mental seperti depresi.
Menurut para ahli, makan terlalu cepat juga bisa mengacaukan keseimbangan hormon. Terutama hormon yang mengatur rasa senang dan tenang seperti serotonin.
Serotonin banyak diproduksi di saluran pencernaan. Jadi kalau sistem pencernaan terganggu, produksi serotonin bisa terganggu juga.
Itu sebabnya makan bukan cuma soal perut kenyang, tapi juga tentang menjaga mood dan mental tetap sehat.
Sebuah laporan dari Harvard Health menyebutkan bahwa makanan cepat saji dan ultra-proses—yang sering dimakan buru-buru—berhubungan dengan risiko depresi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Depresi Kambuhan? Coba Mindfulness! Terobosan Terapi Baru Paling Efektif
Sementara itu, situs Vice melaporkan bahwa orang muda yang makan fast food lebih dari tiga kali seminggu punya tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibanding yang jarang makan cepat.
Kebiasaan makan cepat biasanya juga tidak dibarengi dengan kesadaran penuh atau yang disebut “mindful eating”.
Mindful eating berarti menikmati setiap gigitan dengan sadar dan pelan-pelan. Ini terbukti membantu menurunkan stres dan menjaga berat badan sehat.
Sebaliknya, “emotional eating” atau makan karena stres justru sering dilakukan secara tergesa-gesa, dan efeknya bisa bikin makin tertekan.
Makan cepat juga bikin pencernaan tidak optimal. Ini bisa menyebabkan masalah perut seperti kembung, maag, dan sembelit.
Kalau pencernaan terganggu, maka kenyamanan tubuh pun terganggu. Akhirnya, produktivitas harian dan suasana hati ikut terdampak.
Bukan cuma soal makanan, tetapi pola hidup terburu-buru secara keseluruhan juga bisa jadi pemicu stres dan burnout.
Coba deh biasakan makan dengan duduk tenang, tanpa main HP, tanpa nonton YouTube. Rasakan tekstur, aroma, dan rasa makanan yang kamu konsumsi.
Dengan cara itu, bukan hanya tubuh yang terasa lebih baik, tapi juga pikiran jadi lebih tenang dan bahagia.
Kesehatan mental itu penting, dan ternyata bisa dimulai dari cara kita makan sehari-hari.
Jadi, yuk perlambat sendokmu dan mulai perhatikan lagi hubungan antara makanan dan pikiranmu.
(rm)
Editor : Priska Watung