
Writer : Apris M.A.P.
DALAM bayang-bayang cerita lokal, pertarungan tidak selalu berlangsung di ruang sidang atau panggung kampanye. Sering kali, perang sesungguhnya terjadi melalui narasi.
Kalimat demi kalimat disusun, opini dibangun, persepsi dibentuk, hingga masyarakat dihadapkan pada dua versi cerita yang sama-sama mengklaim sebagai kebenaran.
Fenomena ini kerap terlihat ketika seorang mantan kepala desa (eks village head) berhadapan dengan seorang bupati (regent). Yang dipertaruhkan bukan hanya perbedaan pandangan mengenai kebijakan, tetapi juga kepercayaan publik.
Masing-masing memiliki modal sosial yang berbeda. Mantan kepala desa membawa pengalaman hidup bersama masyarakat di tingkat akar rumput, sementara bupati memegang kewenangan untuk mengelola pembangunan dalam skala kabupaten.
Ketika keduanya berada di kubu yang berseberangan, ruang publik sering kali berubah menjadi arena perebutan pengaruh. Kritik dilontarkan, klarifikasi disampaikan, pendukung saling menguatkan, dan media sosial mempercepat penyebaran setiap potongan informasi.
Dalam hitungan menit, sebuah pernyataan dapat berubah menjadi polemik yang sulit dikendalikan.
Di era digital, siapa yang lebih dulu menguasai cerita sering kali dianggap sebagai pihak yang benar. Padahal, cerita bukan selalu fakta.
Potongan video, kutipan yang terlepas dari konteks, hingga unggahan yang emosional dapat membentuk persepsi yang belum tentu mencerminkan kenyataan secara utuh.



