Gorontalopost, GORONTALO - Aksi demonstrasi mahasiswa di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memanas setelah tragedi meninggalnya Muhammad Jeksen, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, usai mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala.
Demonstrasi yang digelar di depan gedung Rektorat ini berubah menjadi ketegangan terbuka ketika massa menuding pihak kampus kurang peduli terhadap kasus tersebut.
Tak tinggal diam, Rektor UNG, Eduart Wolok, akhirnya angkat suara dengan nada tinggi.
Ia tak bisa menyembunyikan emosinya saat dituduh abai terhadap kematian mahasiswanya.
“Kalian pikir saya diam saja? Saya ikut marah, dan tidak akan membiarkan ini berlalu tanpa tindakan!” tegasnya di hadapan para pengunjuk rasa.
Sebagai bentuk keseriusan, Eduart mengungkapkan bahwa sembilan panitia Diksar Mapala akan dijatuhi sanksi berat berupa skorsing selama satu hingga dua semester.
Ia menyebut ini baru langkah awal, sambil menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian.
“Ini bukan akhir, ini hanya awal dari tanggung jawab yang harus mereka hadapi,” ungkap Eduart.
Pihak rektorat juga telah membentuk tim investigasi internal untuk mendalami kasus tersebut.
Meski hasil investigasi sempat ditolak oleh pihak keluarga korban, Eduart memastikan bahwa upaya itu merupakan wujud keseriusan kampus dalam mencari keadilan.
“Kami tidak lari dari tanggung jawab. Kami ingin semuanya terang-benderang,”ujarnya.
Lebih lanjut, Rektor UNG menekankan bahwa kampus tidak akan mengintervensi proses hukum yang tengah berlangsung.
Ia menyatakan siap membuka akses penuh kepada pihak berwenang agar kasus ini bisa diusut tuntas.
“Biarkan penyelidikan berjalan, kami juga ingin tahu apakah ada unsur pidana di balik tragedi ini,” tutupnya dengan nada tegas. (Mg-03).
Editor : Azis Manansang