Gorontalopost.Id, GORONTALO – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo gencar melakukan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya penyakit HIV AIDS.
Langkah ini dilakukan menyusul peningkatan kasus HIV AIDS di provinsi tersebut, yang mencapai 954 kasus pada tahun 2023. "Ini merupakan alarm bagi kita semua," kata Sabri Panigoro.
Baca Juga: PT. Brantas Abipraya Ditunjuk Pemerintah Pusat Lakukan Survei Kantor Bupati Pohuwato
Sekretaris KPA Provinsi Gorontalo. "Kami harus segera melakukan upaya pencegahan agar kasus HIV AIDS tidak semakin meningkat," ujarnya, kemarin.
Menurutnya KPA melakukan edukasi di berbagai lokasi, termasuk tempat-tempat berkumpulnya kaula muda hingga dewasa.
"Kami melakukan sosialisasi di lokasi-lokasi berisiko seperti kafe, spot-spot yang dianggap berpotensi terjadi penularan, kemudian kami masuk ke sekolah-sekolah SMA, ke kampus, dan kelompok-kelompok yang berisiko lainnya," ucapnya.
Baca Juga: Penjagub Gorontalo bertemu Gubernur Sulteng Bahas Masalah Tambang Hingga IKN
Sabri menjelaskan, edukasi juga dilakukan di pelosok-pelosok daerah di Gorontalo, baik di dalam kota maupun luar kota.
Selain penyuluhan, KPA juga menggunakan metode pengisian angket atau kuesioner untuk mengedukasi siswa-siswi.
"Kami sudah melakukan kunjungan survei perilaku, artinya adik-adik itu mengisi kuesioner setelah itu kami melakukan semacam penyuluhan sehingga mereka mendapatkan informasi tentang HIV AIDS," kata Sabri.
Baca Juga: Penjagub Gorontalo Ismail Mengaku Kaget, Anak Usia 13 tahun Pengedar Narkoba
Sementara itu Pengelola Program Penyakit Menular Mohammad Ramdhan Ismail, pasien yang terindikasi HIV terdeteksi sebanyak 466 pasien dan pasien AIDS sebanyak 471.
"937 itu terakumulasi dibagi HIV 466 pasien dan AIDS 471 pasien," ujarnya saat dikonfirmasi, kemarin.
Dijelaskannya jumlah pasien yang telah meninggal sebanyak 320 orang. Pasien yang non-Antiretroviral (ARV) sebanyak 9 orang sedangkan ARV berjumlah 432 orang.
Baca Juga: KADIN Provinsi Gorontalo Soft Launching #KADINTALK
Ada pasien pindah domisili sebanyak 38 orang dan pasien lost (hilang) kontak. 50 persen minum obat (ARV) dari total keseluruhan.
Berbagai profesi pun terkena virus ini. Wiraswasta tercatat paling banyak.Disusul mahasiswa 93 kasus, Ibu Rumah Tangga: 74 kasus dan PNS/ASN: 60 kasus.(Mg-03).
Editor : Azis Manansang