Bone Bolango Perkuat Data Literasi, 390 Perpustakaan Jadi Bagian dari Ekosistem Membaca

Azis Manansang • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 15:42 WIB

 

Kepala Dinas Perpustakaan Kearsipan Bone Bolango, Mesalina Vivi Saputra.(F:Diskominfo)
Kepala Dinas Perpustakaan Kearsipan Bone Bolango, Mesalina Vivi Saputra.(F:Diskominfo)

Gorontalopost, SUWAWA – Seberapa kuat budaya membaca masyarakat Bone Bolango tidak cukup dijawab melalui angka. 

Pemerintah daerah kini berupaya memastikan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2026 mampu menggambarkan kondisi literasi secara nyata.

Karena itu, Dinas Perpustakaan Kearsipan Bone Bolango memperketat tahapan 
pengumpulan hingga validasi data. 

Baca Juga: Misteri Kerangka Manusia di Kebun Tebu Paguyaman Boalemo, Identitas dan Penyebab Kematian Belum Te

Hasil kajian tersebut nantinya diarahkan sebagai salah satu bahan untuk mengevaluasi layanan kepustakawanan sekaligus menyusun program pembangunan literasi.

Kepala Dinas Perpustakaan Kearsipan Bone Bolango, Mesalina Vivi Saputra, menjelaskan  bahwa proses pengelolaan data IPLM dan TKM tidak dapat dilepaskan dari kerja kolaboratif berbagai unsur.

Menurutnya, kelengkapan informasi, koordinasi antar-OPD dan pemahaman terhadap  tugas serta program literasi menjadi tiga hal yang perlu diperhatikan agar proses pengumpulan data berjalan optimal.

“IPLM dan TKM menggambarkan kinerja yang dibangun secara bersama-sama. Karena itu,  pencapaiannya juga membutuhkan kontribusi dari seluruh pihak yang terlibat,” tutur  Mesalina.

Data tersebut nantinya akan digunakan untuk mengidentifikasi bagian yang sudah 
berkembang sekaligus sektor yang masih membutuhkan intervensi. 

Aspek yang dilihat antara lain layanan perpustakaan, ketersediaan bahan koleksi, akses masyarakat terhadap perpustakaan dan kebiasaan membaca.

Catatan BPS tahun 2025 menunjukkan IPLM Bone Bolango mencapai 17,12, 
sementara Kota Gorontalo berada pada angka 16,12. 

Baca Juga: Kuota 294 Sambungan Listrik Menanti Warga Bone Bolango, Kecamatan Diminta Bergerak Cepat

Data tersebut menjadi salah satu referensi dalam melihat perkembangan pembangunan literasi daerah menuju 2026.

Untuk indikator TKM, pemerintah melihat perilaku membaca masyarakat secara lebih  menyeluruh, mulai dari sebelum membaca, selama membaca hingga setelah membaca. 

Sejumlah fasilitas dan layanan kemudian terus diperkuat untuk mendukung indikator  tersebut.

Di antaranya melalui layanan perpustakaan keliling dan pengembangan perpustakaan desa. 

Perpustakaan An-Nur Desa Poowo, Kecamatan Kabila, menjadi salah satu contoh 
karena telah mencatat prestasi hingga tingkat Provinsi Gorontalo sekaligus aktif 
menggerakkan kegiatan literasi di lingkungan masyarakat.

Di sisi lain, jumlah perpustakaan di Bone Bolango juga terus menjadi bagian dari 
pengembangan ekosistem literasi. 

Data Perpustakaan Nasional RI hingga September 2026 mencatat terdapat 390 perpustakaan di daerah tersebut.

Rinciannya meliputi 245 perpustakaan sekolah, 130 perpustakaan umum, 13 perpustakaan  khusus dan dua perpustakaan perguruan tinggi.

Kepala Bidang Perpustakaan, Yudiawan Maksum, mengatakan keberadaan para penggerak  literasi

dan kontributor data memiliki peran penting dalam memastikan data yang  dikumpulkan dapat dipertanggungjawabkan.

Kontributor tersebut berasal dari berbagai unsur, mulai pengelola perpustakaan SD/MI,  SMP/MTs, SMA/MA sederajat,

perpustakaan desa, kepala sekolah, kepala desa, pengelola perpustakaan hingga komunitas pegiat literasi.

“Tanpa keterlibatan aktif para pengelola dan penggerak literasi yang menjadi sumber data  di lapangan, proses penyediaan data IPLM dan TKM tentu tidak akan berjalan maksimal,” ungkap Yudiawan.

Selain memperluas jumlah perpustakaan, Dinas Perpustakaan Kearsipan Bone Bolango  juga mendorong peningkatan kualitas lembaga perpustakaan melalui advokasi dan  pendampingan akreditasi.

Khusus untuk pengumpulan data IPLM dan TKM 2026, dibentuk tim internal yang 
bertugas melakukan penghimpunan data, evaluasi sekaligus monitoring. 

Tim tersebut dijadwalkan melakukan pendampingan terhadap responden sejak 21 September sampai 31 Oktober 2026.

Pendampingan menyasar perpustakaan desa, sekolah, perpustakaan umum dan 
perpustakaan khusus. 

Responden akan mendapatkan sosialisasi mengenai petunjuk teknis pengisian kuesioner serta pendampingan untuk memastikan tata cara pengisian dilakukan sesuai ketentuan.

Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan kesalahan pengisian dan menjaga agar  data yang terkumpul benar-benar sesuai kondisi di lapangan.

Mesalina berharap proses pengumpulan data tahun ini menghasilkan informasi empiris  yang dapat menjadi dasar laporan IPLM dan TKM 2026

sekaligus membantu pemerintah menentukan program literasi yang lebih sesuai kebutuhan masyarakat.

“Data yang kuat membutuhkan komunikasi lintas lembaga yang berjalan baik, baik di  tingkat daerah, kecamatan maupun desa. 

Koordinasi itu akan sangat berpengaruh terhadap  kualitas evaluasi layanan perpustakaan dan perkembangan literasi Bone Bolango,”  pungkasnya.(Mg-05).

Editor : Azis Manansang
Dinas Perpustakaan membaca Literasi Bone Bolango Perpusnas