GORONTALOPOST- Pada hari Senin, Administrasi Oseanik dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa peristiwa pemutihan massal terumbu karang global yang sedang berlangsung ini, terjadi di berbagai wilayah dunia dan pada tahun ini menjadi sorotan utama karena meningkatnya suhu laut yang mencapai rekor tertinggi, memberikan dampak serius bagi ekosistem laut dan bagi masyarakat serta ekonomi yang bergantung pada terumbu karang.
Peningkatan suhu air laut menjadi pemicu stres bagi terumbu karang, yang menyebabkan mereka membuang alga simbionnya dan akhirnya berubah menjadi putih tulang. Mayoritas terumbu karang hidup di perairan dangkal, di mana dampak pemanasan global sangat terasa. Kondisi apakah sebuah terumbu karang akan mengalami stres karena panas tergantung pada durasi serta seberapa signifikan kenaikan suhu dibandingkan dengan kondisi normalnya.
Para ilmuwan menemukan bahwa pemutihan terumbu karang biasanya terjadi ketika suhu air di sekitarnya naik minimal 1 derajat Celsius dari suhu rata-rata maksimum yang biasa mereka alami, dan bertahan selama empat minggu atau lebih.
Tahun ini, terjadi lonjakan suhu laut yang signifikan sebagai akibat dari efek perubahan iklim dan fenomena iklim El Nino yang menyebabkan suhu laut menjadi lebih hangat.
Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus UE, pada bulan Maret, suhu permukaan laut rata-rata global bahkan mencapai rekor tertinggi bulanan sebesar 21,07C (69,93F). Meskipun diprediksi bahwa sebagian dari panas laut tersebut akan berkurang seiring melemahnya fenomena El Nino, namun pemanasan laut secara keseluruhan akan terus berlanjut seiring intensifikasi perubahan iklim.
Kemungkinan bertahan hidupnya terumbu karang setelah mengalami pemutihan tergantung pada kondisi suhu di sekitarnya yang kembali normal sehingga alga simbionnya dapat kembali.
Namun, gangguan seperti siklon atau polusi dapat memperlambat proses pemulihan. Para ilmuwan memberi peringatan bahwa terumbu karang pada tahun ini menghadapi suhu tinggi yang lebih ekstrem dan bertahan lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan perlunya tindakan lebih lanjut untuk melindungi ekosistem terumbu karang yang rentan ini dari dampak perubahan iklim yang semakin memburuk.
Editor : Priska Watung