Gorontalopost, GORONTALO - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terus menunjukkan eksistensinya di tengah perubahan regulasi yang semakin ketat.
Salah satu buktinya adalah kegiatan bakti sosial yang melibatkan pengobatan gratis dan pembagian sembako kepada masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh IDI Kabupaten Gorontalo ini mendapatkan sambutan hangat dari warga.
Baca Juga: ASB Gorontalo Bertekad Cetak Generasi Berprestasi di Turnamen Nasional
Ketua IDI Provinsi Gorontalo, dr. A. R. Mohammad, Sp.PD, FINASIM, menegaskan bahwa aksi sosial ini merupakan bukti nyata IDI tetap berkontribusi bagi masyarakat.
Menurut dr. Mohammad, yang akrab disapa dr. Tonny, IDI menghadapi berbagai tantangan.
Terutama terkait regulasi baru dalam Undang-Undang Kesehatan yang mengubah sejumlah kewenangan organisasi dokter.
"Dulu, setiap izin praktik dokter harus melalui rekomendasi IDI, tetapi sekarang izinnya langsung dari pusat," jelasnya.
Perubahan ini tentu membawa dampak besar terhadap peran IDI dalam mengawasi dan membimbing para tenaga medis.
Baca Juga: Tragis! Seorang Istri Tewas Ditikam Suami di Depan Anak Sendiri
Selain itu, dr. Tonny juga menyoroti sistem penilaian performa dokter yang diterapkan dalam regulasi baru.
Ia mengkhawatirkan mekanisme penilaian tersebut jika tidak dilakukan dengan seleksi yang ketat.
"Seorang dokter harus memiliki tiga karakter utama, yaitu kesantunan, kesejawatan, dan kebersamaan.
Semua ini seharusnya dinilai secara langsung, bukan hanya berdasarkan sistem yang belum tentu mencerminkan kompetensi yang sesungguhnya," paparnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, IDI Kabupaten Gorontalo tetap bergerak aktif.
Baca Juga: IDI Kabupaten Gorontalo Gelar Aksi Kemanusiaan, Bantu Korban Banjir dengan Pengobatan Gratis
Dr. Tonny mengapresiasi langkah cepat organisasi ini yang baru saja terbentuk namun sudah menunjukkan kepedulian nyata.
"Saya sangat menghargai inisiatif IDI Kabupaten Gorontalo. Mereka belum dilantik secara resmi, tetapi sudah mengambil tindakan nyata bagi masyarakat," katanya dengan penuh apresiasi.
Kegiatan ini pun menjadi bukti bahwa IDI bukan sekadar organisasi profesi, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
Dr. Tonny berencana melaporkan inisiatif ini ke IDI pusat agar mendapat perhatian dan dukungan lebih luas.
"Kami ingin memastikan bahwa eksistensi IDI tetap kuat dan terus berperan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia," tutupnya. (Mg-02).
Editor : Azis Manansang