GORONTALOPOST -Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Gorontalo Dr Hasri Ainun Habibie di Limboto, Kabupaten Gorontalo, tengah dipersiapkan untuk naik kelas sebagai Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam memperkuat layanan kesehatan sekaligus pengembangan sumber daya manusia bidang kedokteran.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, dr Anang S Otoluwa, mengatakan pihaknya telah menggelar pertemuan lanjutan untuk mematangkan persiapan tersebut.
“Kami menggelar pertemuan dalam rangka mempersiapkan RSUD Dr Hasri Ainun Habibie menjadi RSPPU program pendidikan spesialis penyakit dalam di Gorontalo,” ujar Anang di Gorontalo, Rabu.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari rapat persiapan awal yang telah dilaksanakan pada Januari 2026 lalu. Fokus pembahasan diarahkan pada kesiapan rumah sakit dari berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, hingga tata kelola pendidikan klinik sesuai standar rumah sakit pendidikan.
Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo, Ketua Komite Medik RSUD Dr Hasri Ainun Habibie, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Gorontalo, serta jajaran manajemen rumah sakit.
Anang menjelaskan, terdapat tiga langkah awal yang menjadi prioritas utama dalam percepatan pembentukan RSPPU Penyakit Dalam. Pertama, pembentukan tim percepatan yang melibatkan lintas sektor terkait.
Kedua, penyusunan rencana dan tahapan pelaksanaan yang terstruktur serta terukur. Ketiga, penyelenggaraan lokakarya dengan melibatkan seluruh unsur Fakultas Kedokteran, dalam hal ini Universitas Hasanuddin (UNHAS) sebagai mitra.
“Langkah awal yang paling penting adalah membentuk tim percepatan. Setelah itu kita harus memiliki perencanaan dan tahapan yang realistis, serta melakukan lokakarya bersama Fakultas Kedokteran UNHAS agar seluruh proses berjalan terarah dan sesuai standar,” jelasnya.
Berdasarkan hasil asesmen awal, Anang mengungkapkan bahwa RSUD Dr Hasri Ainun Habibie memiliki potensi besar untuk menjadi rumah sakit pendidikan. Namun demikian, masih diperlukan penguatan di sejumlah aspek, khususnya kesiapan SDM, baik dokter spesialis, dokter pendidik klinis, maupun tenaga pendukung, serta pemenuhan sarana dan prasarana sesuai standar rumah sakit pendidikan.
“Hasil asesmen menunjukkan rumah sakit ini memiliki potensi besar. Namun masih perlu penguatan, terutama dari sisi SDM dan sarana prasarana. Rapat ini menjadi momentum awal untuk menyatukan persepsi dan menyusun langkah strategis ke depan,” katanya.
Ia menegaskan, pembentukan tim percepatan RSPPU Penyakit Dalam harus segera dilakukan sebagai tindak lanjut konkret agar seluruh proses persiapan berjalan lebih sistematis dan terkoordinasi.
Sementara itu, Ketua PAPDI Provinsi Gorontalo, Taufik Ramadhan Biya, menyoroti sejumlah aspek penting yang harus dipenuhi dalam pembukaan program studi dokter spesialis penyakit dalam. Menurutnya, kesiapan kurikulum, SDM, serta sarana dan prasarana pendukung pendidikan merupakan standar utama dalam penyelenggaraan RSPPU.
Taufik juga mendorong para anggota PAPDI di Gorontalo untuk mulai menempuh pendidikan subspesialis sebagai upaya memperkuat kapasitas SDM pendidik klinik di daerah. Selain itu, ia menekankan pentingnya kelengkapan sarana penunjang pendidikan, terutama ketersediaan laboratorium yang lengkap dan mandiri.
“Rumah sakit pendidikan idealnya memiliki laboratorium yang memadai dan berdiri sendiri, sehingga dalam pelaksanaan pendidikan RSPPU tidak lagi bergantung pada pemeriksaan laboratorium dari luar,” ujarnya.
Ke depan, RSUD Dr Hasri Ainun Habibie diharapkan tidak hanya berperan sebagai wahana pendidikan dokter spesialis penyakit dalam, tetapi juga berkembang menjadi pusat layanan rujukan unggulan yang mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat Gorontalo dan sekitarnya.(antara)
Editor : Nur Fadilah