GORONTALOPOST - Bayangkan berada di tengah-tengah air, cahaya matahari semakin meredup, air menjadi semakin dingin, dan suara-suara di sekelilingmu perlahan menghilang.
Sunyi mulai menyelimuti, sementara matamu terasa semakin berat.
Inilah momen ketika tubuh dan pikiran mulai menyerah pada kekuatan air.
Tetapi, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat kita tenggelam hingga hilang kesadaran?
Sayangnya, tenggelam tidak seperti yang sering digambarkan dalam film.
Kebanyakan korban tenggelam tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas, sehingga sulit bagi orang di sekitar untuk menyadari bahwa mereka sedang dalam bahaya dan butuh pertolongan.
Bahkan, menurut statistik, dalam setahun, ratusan ribu orang kehilangan nyawa akibat tenggelam — jumlah yang setara dengan tiga kali kapasitas Stadion Gelora Bung Karno (GBK).
Awal dari Ketakutan: Saat Tubuh Berusaha Bertahan
Pada awalnya, saat tenggelam, tubuh kita akan secara naluriah berusaha menjaga mulut dan hidung tetap di atas permukaan air agar bisa bernapas.
Berteriak, apalagi berbicara, menjadi hal yang sangat sulit, bahkan hampir mustahil.
Tubuh akan berusaha keras untuk menghirup oksigen, yang menyebabkan gerakan naik-turun tubuh seiring dengan gerakan tangan yang mencoba tetap berada di bawah air.
Namun, seiring waktu, tubuh mulai merasa lelah.
Kelelahan ini memperburuk kondisi karena pikiran kita mulai panik, dan sulit untuk tetap tenang.
Panik tersebut adalah reaksi alami ketika tubuh kekurangan oksigen.
Ketika otak tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup, fungsinya mulai menurun, menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam pikiran.
Jika tidak segera diselamatkan, tubuh akhirnya akan kehabisan tenaga untuk menahan napas.
Ketika air mulai masuk ke paru-paru, sensasi terbakar yang luar biasa akan muncul, seolah-olah ada api yang menyala di dada.
Pada titik ini, tidak mungkin lagi untuk menghirup oksigen.
Seiring waktu, sel-sel saraf dan otak akan mulai rusak, dan kita akan mulai kehilangan kesadaran.
Sayangnya, ini belum akhir dari penderitaan.
Tekanan darah akan terus menurun, yang berarti organ-organ penting tidak lagi mendapatkan oksigen yang dibutuhkan untuk tetap berfungsi.
Ketika tekanan darah mencapai nol, jantung pun akan berhenti berdetak.
Jika pada tahap ini kita masih belum diselamatkan, kemungkinan untuk bertahan hidup menjadi sangat kecil, dan inilah saat di mana segalanya berakhir.
Faktanya, tenggelam hanya dalam beberapa puluh detik sudah bisa berakibat fatal.
Namun, jika pertolongan datang tepat waktu, korban tenggelam masih memiliki peluang untuk selamat, terutama jika tidak tenggelam lebih dari 5 hingga 10 menit.
Semakin cepat ditolong, semakin besar peluang untuk selamat.
Peluang bertahan hidup lebih tinggi jika tenggelam di air dingin, karena suhu dingin memperlambat fungsi organ tubuh, memberikan lebih banyak waktu bagi penyelamat untuk datang.
Namun, tenggelam di air tawar ternyata lebih berbahaya dibandingkan di air laut.
Air tawar lebih mudah diserap ke dalam aliran darah dan dapat merusak sel-sel darah dengan cepat.
Berenang adalah salah satu cara terbaik untuk berolahraga atau bersenang-senang bersama teman dan keluarga.
Namun, penting untuk selalu waspada dan menjaga keselamatan.
Belajar berenang dengan baik atau selalu menggunakan pelampung adalah langkah bijak.
Bahkan, hanya sekadar bermain air dan menjaga kepala tetap di atas permukaan bisa membuat pengalaman di air menjadi aman dan menyenangkan.
Dan jika kamu benar-benar berada dalam situasi tenggelam, ingatlah untuk tetap tenang, angkat kepala, dan tarik napas dalam-dalam.
Paru-paru kita adalah pelampung alami yang dapat membantu kita bertahan hidup dalam situasi darurat di air. ***
Sumber: YouTube Kok Bisa?
Editor : Tina Mamangkey