GORONTALOPOST - Stalking di media sosial, atau sering disebut "kepo", sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang.
Kita mungkin pernah bercanda dengan teman tentang "stalking" profil mereka, hanya sekadar melihat foto atau update status mereka.
Aktivitas ini biasanya dianggap tidak berbahaya. Namun, ada bentuk stalking yang lebih serius, yaitu cyberstalking, yang bisa berujung pada kejahatan serius dan berdampak buruk bagi korbannya.
Apa itu Cyberstalking? Cyberstalking merupakan bentuk penguntitan di dunia maya yang melampaui sekadar melihat profil orang lain.
Tindakan ini dapat melibatkan pelecehan, ancaman, hingga pengiriman pesan yang tidak diinginkan secara terus-menerus.
Pada titik ini, batas antara stalking biasa dan tindakan berbahaya sudah terlampaui. Selain itu, stalker sering kali memiliki tujuan tersembunyi dan bermotif tertentu.
Dilansir dari FHE Health Restore, seorang psikolog menyebutkan bahwa perilaku stalking di media sosial bisa sangat kompleks.
Cyberstalking tidak hanya terbatas pada pelecehan, tetapi juga dapat melibatkan "catfishing", di mana seseorang berpura-pura menjadi orang lain untuk tujuan manipulasi.
Ini sering kali dilakukan untuk mendapatkan informasi pribadi, uang, atau sekadar merugikan korbannya.
Faktor Penyebab Cyberstalking Tidak ada yang namanya "stalker biasa".
Stalking, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, sering kali berhubungan dengan gangguan psikologis.
Banyak stalker melakukan tindakannya karena dorongan obsesif yang mereka miliki. Obsesi ini bisa berasal dari delusi, yang sering kali terkait dengan gangguan mental seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Media sosial memberi peluang unik bagi seseorang untuk stalking. Beberapa orang tidak sadar bahwa tindakan mereka telah melampaui batas dan merugikan orang lain.
Namun, bagi korban, tindakan ini bisa sangat mengganggu dan menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Kaitan Perilaku Obsesif dengan Kesehatan Mental Perilaku obsesif adalah ciri khas banyak gangguan psikologis.
Orang dengan gangguan obsesif sering kali memiliki pikiran atau dorongan yang terus-menerus dan tidak bisa dikendalikan.
Kondisi ini sering kali muncul dalam bentuk perilaku yang meresahkan, seperti stalking.
Penelitian menunjukkan bahwa banyak cyberstalker memiliki karakteristik yang cocok dengan gangguan kepribadian.
Gangguan ini memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak, membuat mereka sering tidak sadar bahwa tindakan mereka tidak wajar dan berbahaya bagi orang lain.
Stalking, khususnya di media sosial, bukan hanya masalah moral, tetapi juga masalah kesehatan mental yang bisa didiagnosis dan dikelola.
Namun, masalahnya adalah banyak orang yang terjebak dalam perilaku obsesif ini tidak menyadari bahwa mereka memerlukan bantuan.
Terkadang, rasa malu atau ketidakpahaman tentang kondisi mental membuat mereka enggan mencari pertolongan.
---
Editor : Tina Mamangkey