Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Tidak Pernah Mandi Hingga Menawari Istri ke Tamu, 7 Fakta Menarik Suku Himba

Tina Mamangkey • Senin, 9 Desember 2024 | 20:01 WIB
Suku Himba, tidak pernah mandi hingga menawari istri ke tamu.
Suku Himba, tidak pernah mandi hingga menawari istri ke tamu.

GORONTALOPOST - Suku Himba adalah salah satu kelompok etnis yang mendiami wilayah utara Namibia, Afrika.

Dikenal dengan julukan "suku merah", mereka adalah sekelompok masyarakat yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka meskipun dunia luar semakin modern.

Populasi Suku Himba saat ini diperkirakan lebih dari 50.000 orang. Suku ini memiliki kehidupan yang sangat khas, dengan tradisi yang unik, menjadikan mereka salah satu suku yang paling menarik di dunia.

Suku Himba terutama dikenal dengan kebiasaan hidup yang sangat berbeda dari kebanyakan masyarakat modern.

Berikut ini adalah tujuh fakta menarik yang patut diketahui tentang Suku Himba.

1. Wanita Suku Himba Tidak Pernah Mandi 

Salah satu kebiasaan paling unik dari Suku Himba adalah bahwa wanita mereka tidak pernah mandi dengan air.

Bahkan untuk mencuci tangan pun sangat dibatasi. Hal ini terjadi karena mereka tinggal di daerah gurun yang sangat kering dan kekurangan air.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan ojize, campuran lemak sapi, tanah merah, dan bahan herbal, yang dioleskan ke seluruh tubuh mereka.

Tradisi ini membuat tubuh mereka tetap bersih meskipun tidak menggunakan air untuk mandi.

Selain itu, wanita Suku Himba juga memiliki kebiasaan mandi asap. Mereka menaruh arang bakar dalam mangkuk kecil yang berisi tanaman herbal dari pohon komipora, kemudian membungkuk di atas mangkuk yang mengeluarkan asap panas.

Asap ini dianggap dapat membersihkan tubuh, dan mereka menutup tubuh dengan selimut sehingga asap terperangkap dan membuat tubuh mereka berkeringat. Inilah yang dikenal sebagai "mandi keringat."

Rambut wanita Himba juga memiliki perawatan khusus. Sebelum dilumuri dengan ojize, rambut mereka harus dikepang dengan cara tertentu.

Kepangan rambut ini juga menjadi simbol status sosial. Wanita yang belum menikah memiliki dua kepangan, sementara wanita yang sudah menikah membagi kepangan mereka menjadi lebih banyak bagian.

Begitu pula dengan pria Suku Himba, di mana mereka juga memakai bentuk rambut tertentu sebagai tanda status pernikahan.

2. Pria Suku Himba Bebas Berpoligami

Dalam kebudayaan Suku Himba, poligami adalah hal yang biasa. Pria dapat memiliki lebih dari satu istri, dan jumlah istri biasanya bergantung pada banyaknya ternak yang dimiliki.

Semakin banyak ternak yang dimiliki seorang pria, semakin banyak pula istri yang dapat dimilikinya.

Ternak, terutama sapi dan kambing, merupakan simbol kekayaan dan status sosial dalam masyarakat mereka.

Perkawinan dini juga menjadi bagian dari tradisi mereka. Gadis-gadis muda, bahkan yang masih berusia 10 tahun, bisa menikah dengan pria pilihan orangtua mereka.

Setelah menikah, seorang pria dianggap sebagai laki-laki dewasa, namun gadis Himba baru dianggap dewasa setelah melahirkan anak pertama mereka.

3. Menjamu Tamu dengan Tidur Bersama Istri

Salah satu tradisi yang paling mengejutkan adalah bagaimana Suku Himba memuliakan tamu yang datang ke rumah mereka.

Ketika seorang tamu datang, sang tuan rumah akan menawarkan istrinya untuk tidur bersama tamu tersebut.

Dalam hal ini, sang suami tidur di kamar lain atau bahkan di luar rumah jika tidak ada kamar lain yang tersedia.

Istri memiliki hak untuk menolak tidur dengan tamu, tetapi ia tetap harus berada di kamar yang sama dengan tamu yang datang.

Meski demikian, tradisi ini dianggap sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap tamu.

Dalam budaya Suku Himba, tamu adalah orang yang sangat dihormati dan dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan sosial mereka.

4. Wanita Himba Memiliki Pekerjaan yang Lebih Banyak Daripada Laki-laki

Peran perempuan dalam Suku Himba sangatlah vital. Mereka menjalani banyak pekerjaan sehari-hari yang mencakup menggembala ternak, merawat tanaman, membuat kerajinan tangan, dan mengurus anak-anak.

Para wanita dan anak perempuan juga bertanggung jawab dalam pengolahan susu sapi dan kambing, yang merupakan sumber utama makanan bagi mereka.

Sebaliknya, laki-laki dalam masyarakat Himba lebih banyak berfokus pada berburu dan menggembala ternak.

Mereka memiliki peran yang lebih sedikit dalam urusan rumah tangga, namun tetap menjadi kepala keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan.

5. Suku Himba adalah Petani dan Peternak

Mayoritas masyarakat Suku Himba bekerja sebagai petani dan peternak.

Mereka memelihara berbagai jenis ternak seperti sapi, kambing, dan domba, yang menjadi sumber utama susu dan daging mereka.

Ternak juga berfungsi sebagai simbol kekayaan dan kemakmuran. Selain itu, mereka juga bertani dengan menanam berbagai jenis tanaman, terutama tanaman yang bisa tumbuh di tanah kering seperti jagung dan millet.

Bagi Suku Himba, semakin banyak ternak yang dimiliki oleh sebuah keluarga, semakin tinggi status sosial mereka.

Ternak bukan hanya sumber pangan, tetapi juga menjadi bentuk investasi bagi masa depan keluarga.

6. Makanan Utama Mereka adalah Bubur

Makanan sehari-hari Suku Himba adalah bubur. Setiap pagi dan sore, mereka memanaskan air hingga mendidih dan memasak tepung jagung, millet, atau mahangu (sejenis millet) menjadi bubur.

Bubur ini menjadi makanan utama yang memberikan energi bagi mereka untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Tanaman millet sangat penting dalam kehidupan mereka karena tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di tanah yang kurang subur.

Selain bubur, susu dan daging dari ternak juga menjadi bagian penting dari pola makan mereka.

7. Berdoa Menggunakan Api sebagai Perantara dengan Tuhan

Suku Himba menganut animisme monoteistik, menyembah dewa bernama Mukuru.

Dalam tradisi mereka, api dianggap sebagai media komunikasi dengan Tuhan.

Mereka memiliki api suci yang selalu menyala di setiap desa, yang digunakan untuk berdoa dan berkomunikasi dengan leluhur.

Asap dari api suci ini dianggap sebagai perantara yang menghubungkan mereka dengan dunia roh.

Di dekat api suci, ada batu-batu suci tempat mereka meletakkan kayu bakar.

Kayu tersebut dibakar untuk menambah kesakralan api. Api suci ini juga digunakan dalam berbagai ritual dan upacara yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Himba.

---

Suku Himba adalah contoh kekayaan budaya yang luar biasa, mempertahankan tradisi mereka meskipun kehidupan dunia terus berubah.

Tradisi mereka yang unik, seperti mandi keringat dengan asap dan cara mereka menyambut tamu dengan memberi istri untuk tidur bersama tamu, menunjukkan betapa dalamnya makna sosial dan budaya mereka.

Kehidupan mereka yang sederhana, tetapi penuh dengan simbolisme, menunjukkan bagaimana mereka tetap hidup harmonis dengan alam dan leluhur mereka.

Mengetahui kebiasaan dan cara hidup mereka memberikan wawasan mendalam tentang ketahanan budaya dan pentingnya menjaga warisan nenek moyang dalam kehidupan masyarakat yang semakin terhubung dengan dunia luar.

Suku Himba adalah contoh betapa kuatnya tradisi dan kepercayaan yang dapat bertahan selama berabad-abad.

Sumber: Youtube Hawin Kanjim

Editor : Tina Mamangkey
#Suku Himba #tidak pernah mandi #wanita #fakta unik