GORONTALOPOST - Setiap tahun, beberapa negara mengubah jam mereka satu jam lebih cepat atau lebih lambat. Ini disebut dengan istilah Daylight Saving Time atau DST.
Meskipun terlihat sepele, ternyata perubahan waktu ini bisa berdampak besar pada kesehatan mental kita.
Menurut Harvard Medical School, perubahan jam di musim semi menyebabkan orang kehilangan rata-rata 40 menit waktu tidur. Ini membuat tubuh merasa lelah dan sulit konsentrasi.
Tidur yang kurang memengaruhi hormon penting seperti melatonin dan serotonin. Melatonin mengatur waktu tidur, sementara serotonin berperan dalam mengatur suasana hati.
Jika kedua hormon ini terganggu, maka seseorang bisa merasa stres, cemas, bahkan sedih berlebihan.
Dilansir dari Health.com, pergeseran waktu juga menurunkan paparan cahaya pagi. Padahal cahaya pagi penting untuk menjaga jam biologis tubuh atau ritme sirkadian tetap seimbang.
Ketika ritme sirkadian terganggu, tubuh jadi bingung kapan harus tidur atau bangun. Akibatnya, tidur jadi tidak nyenyak dan suasana hati ikut kacau.
Dr. David Merrill dari Pacific Neuroscience Institute menyebut bahwa lonjakan gejala depresi meningkat setelah perubahan waktu di musim gugur. Bahkan kunjungan rumah sakit karena gangguan mental bisa naik hingga 11%.
Selain itu, risiko kecelakaan juga meningkat. Harvard mencatat ada kenaikan 6% kecelakaan lalu lintas pada Senin setelah perubahan waktu musim semi.
Bukan hanya soal tidur atau mood, perubahan waktu juga meningkatkan risiko penggunaan alkohol dan obat-obatan, menurut Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking Journal.
Baca Juga: Jarang Cemas? Ini 7 Kebiasaan Orang yang Hidupnya Bebas Stres, Menurut Psikologi
Hal ini disebut sebagai bentuk “coping mechanism” atau cara orang mencoba menenangkan diri, meski dengan cara yang kurang sehat.
Yang paling berisiko adalah remaja dan lansia. Mereka lebih sensitif terhadap perubahan pola tidur dan cahaya alami.
Psikolog menyarankan agar kita menyiapkan tubuh sebelum DST datang. Caranya adalah tidur lebih awal sedikit demi sedikit seminggu sebelumnya.
Kita juga disarankan membuka tirai jendela di pagi hari untuk mendapat cahaya alami sebanyak mungkin. Ini membantu tubuh menyesuaikan jam biologisnya.
Selain itu, batasi konsumsi kopi dan hindari gadget sebelum tidur agar kualitas istirahat tidak terganggu.
Perubahan waktu dua kali setahun mungkin terdengar biasa, tapi dampaknya bisa sangat nyata bagi kesehatan mental jutaan orang.
Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan untuk menghentikan praktik ini karena dianggap lebih banyak ruginya.
Walaupun Indonesia tidak menerapkan DST, informasi ini penting sebagai pembelajaran dan kesadaran tentang bagaimana tidur dan cahaya memengaruhi pikiran kita.
Dan bagi kamu yang sering merasa cemas atau mudah marah saat pola tidur berubah, mungkin inilah jawabannya.
(rm)
Editor : Priska Watung