Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Stres di Usia 20-an Bikin Otak ‘Tua’ Dini Saat 40-an! Jangan Sampai Kehilangan Ingatan!

Priska Watung • Kamis, 31 Juli 2025 | 11:29 WIB

ilustrasi orang kehilangan ingatan
ilustrasi orang kehilangan ingatan

Adult stress di usia muda ternyata bisa berdampak pada kesehatan otak satu dekade kemudian.

Penelitian dari UCSF menunjukkan bahwa stres kronis, obesitas, dan kurang gerak pada usia 20-an dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif saat mencapai 40-an. Pemicu seperti peradangan kronis bisa mengganggu daya ingat dan fleksibilitas berpikir.

Temuan ini mencengangkan karena banyak yang menganggap masa muda adalah fase aman bagi otak. Ternyata bukan begitu.

Menurut peneliti dari University of California – San Francisco, mereka menyebut bahwa “poor health, stress in 20s takes toll in 40s with lower cognition”. Itu artinya gaya hidup di usia muda punya efek jangka panjang.

Studi jangka panjang selama beberapa tahun menunjukkan bahwa inflamasitas (radang kronis) pada tubuh muda berdampak besar pada performa otak dewasa.

Fungsi seperti memori kerja, kecepatan berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan bisa melemah di usia paruh baya.

Selain itu, penelitian di UK Biobank dengan AI mengungkap bahwa isolasi sosial & stres pandemi mempercepat penuaan otak mental hingga 5,5 bulan, meskipun orang tersebut tidak terinfeksi COVID‑19. Efek ini lebih nyata pada pria, lansia, dan kelompok sosial ekonomi rendah.

Artinya, tekanan sosial dan ketidakpastian bisa menyulitkan otak agar tetap vital dan gesit.

Pada aspek emosional, menurut data Stress in America 2023 dari APA, orang usia 35–44 mengalami peningkatan diagnosis gangguan mental hingga 45% sejak tahun sebelumnya. Ini mencerminkan peningkatan tekanan hidup dewasa.

Juga ditemukan fakta bahwa orang dewasa sering merasa lebih tua saat stres tinggi dan merasa kurang kontrol hidupnya. Studi NC State U. menyebut bahwa orang muda bisa merasa lebih tua di hari tertentu ketika mereka merasa kehilangan kendali atas hidupnya.

Misalnya saat menghadapi tekanan finansial atau pekerjaan — respon emosional ini bikin terasa seperti sudah tua.

Selain itu, pasangan bahagia juga bisa berpengaruh positif pada stres. Penelitian dari UC Davis menyebut jika pasangan merasa bahagia, hormon stres kortisol pasangan lainnya bisa lebih rendah. Ini bukti kalau hubungan sosial itu faktor protektif untuk mental dewasa.

Lalu, penelitian tentang Monday stress menunjukkan stres yang terjadi pada hari Senin bisa terekam di rambut hingga berminggu-minggu. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang dewasa.

Makin banyak bukti ilmiah: stres jangka pendek bisa menimbulkan efek buruk jangka panjang di tubuh dan otak.

Berbagai studi menekankan pentingnya mengurangi stres sejak dini—mulai dari olahraga ringan, tidur cukup, hingga menjaga hubungan sosial.

Menurut data SAMHSA, hanya 1 dari 5 orang dewasa dengan gangguan mental yang mendapat pengobatan setiap tahun. Artinya banyak orang dewasa yang mengalami stres tanpa bantuan profesional.

Kebiasaan jalan kaki minimal 7.000 langkah tiap hari terbukti bisa turunkan risiko depresi hingga 31%.(JAMA Network Open) Ini bisa jadi kebiasaan sederhana yang penting untuk kesejahteraan mental.

Baca Juga: Jalan Kaki vs Diabetes, Fakta Medis yang Perlu Anda Ketahui!

Paparan alam atau nature exposure juga penting. Berada di lingkungan hijau terbukti menurunkan stress dan meningkatkan perhatian serta mood positif.

Kesimpulannya: stress sejak muda bisa mempercepat penurunan kognitif dan memperburuk mental. Sebaliknya, gaya hidup sehat, hubungan sosial kuat, dan aktivitas positif bisa memperbaiki kualitas hidup dewasa.

(at)

Editor : Priska Watung
#kesehatan mental #Fakta Psikologi #psikologi #stress #kehilangan ingatan